Selasa, 28 Februari 2012

Karena Kami Mahasiswa

Hidup Mahasiswa Indonesia!!

Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Peternakan, Kedokteran Hewan, dan Pertanian bersama mengadakan aksi hari gizi nasional Jumat 25 Februari 2012. Issue yang di usung kali ini adalah "Pemenuhan akan Pangan merupakan HAM".


Indonesia negara kaya, dengan kelimpahan alam dimana-mana. Namun siapa yang bisa menjamin balita di Indonesia tidak lapar? Impor seperti sudah menjadi pil ekstasi. Petani lokal mulai tersingkirkan. Semakin runyamnya permasalahan ini dengan ditunjang kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemenuhan gizi balita Indonesia. Dan semakin jauhnya akses kependidikan dan kesadaran pemenuhan gizi oleh masyarakat Indonesia.


Aksi yang diawali orasi di bunderan di UGM di tutup dengan orasi dan pembagian panganan berbergizi di daerah sekitar Malioboro ini tergolong cukup sukses. Terbukti dimuat dalam 9 media masa yang berbeda dan berita dalam TV swasta nasional. 


Hidup Mahasiswa Indonesia! Viva veteriner!

Zombie Kampus


Terkadang aku bertanya apa gerangan yang salah pada diriku. Apa bedanya aku dengan teman-teman yang lain. Rasanya aku tak sama. Cara pandangku, pemikiranku, bahkan caraku untuk menikmati hiduppun rasanya berbeda. Memang benar tak ada yang sama di dunia ini, tapi setidaknya masih dalam koridor yang tak jauh beda, meskipun koridor itu di buat oleh manusia sendiri.

Hidup hampa. Tanpa jiwa. Sahabat hanya menjadi suatu rutinitas. Tak ada yang rasanya tak ada yang pas saja. Walaupun aku juga tak tau apa yang kurang pas itu. Jarang ngumpul, sekalinya ngumpul cuma asik dengan dunia yang dibuat sendiri. Autis kah ini?

Entahlah. Aku tak tau apa pun. Yang ku tau, tau-tau setelah kemaren MOS SMA kini sudah terdaftar di salah satu universitas yang katanya susah di masuki (opini kerabat sih). Tanpa kebanggaan , tanpa perjuangan, tanpa senyuman. Semuanya datar. Padahal sebelahku sorak sorai. Aneh. Sebenarnya siapa yang aneh disini? Aku atau anak disebelahku ini?

Omelan. Itu yang selalu ku dapat kala aku mengeluh berada di tempat ini saat masih di kampung ketika bersama teman2. “gila ya kamu? UGM cing!”.

Ya. UGM. So? What?

Memang. UGM masuk daftar “hal keren” dalam kamus ku. Tapi ini kedokteran hewan, sob. Bukan Teknik seperti mimpi gw. Atau minimal Psikologi atau PAUD lah. Fakultas dimana jauh dari logaritma dan kekasihku trigonometri.

Apa masih bisa di banggain kalau gini caranya, Teknik vs Kedokteran hewan tuh ibarat langit dan sumur. Satunya itungan abis, dan satunya hafalan kagak ada ujungnya.

“emang dulu pilihan pertamamu teknik ya? Dan ternyata kamu keterima di KH?”
“kagak. Pilihan pertama dan satu2nya di tes pertama dan terakhir gw ya Kedokteran Hewan”.
Seingatku, tak ada satu pun orang yang gak tepok jidat denger pernyataan ku itu.

-Masih dengan cengiran dan muka polos biasa-
Mungkin kesalahan hidupku juga kali ya. Aku juga tak tahu hal yang buat aku mau-maunya di kedokteran hewan. Tanpa percekcokan, tanpa perlawanan, tanpa perjuangan. Begitu saja ku buang impian hidup ku. Tanpa air mata tanpa kegalauan. Semua datar. Ku terima permintaan orang tua ku dengan datar. Bahkan tanpa ekspresi.

-Merantaulah aku ke tanah Jogja-
Berjalannya waktu. Prestasi akademik tak memuaskan, pergaulan yang kurang menyenangkan. Letupan yang terpendam mulai membesar. “Aku harus mencari pelampisan!”

Itulah hal yang terbesit dipikiranku. Mencari kesana kemari, akhirnya kuputuskan untuk melampiaskan kekalutan hatiku di ranah dan dunia yang berbeda dari seorang siswa ke mahasiswa. BEM. Ya. Badan Eksekutif Mahasiswa. Tak tanggung tanggung. BEM universitas yang ku ikuti.

-Masih dengan kedataran hidupku.-
Ku temukan arti yang lain dalam hidupku,. Aku memiliki sahabat yang tulus menyayangi dan tulus mengabdi pada orang tua, negara, dan agama. Meski terkadang hari dilalui penuh dengan kelelahan dan air mata, tapi kurasa itu harga yang impas untuk semua yang kuperoleh.

Bertemulah aku dengan seorang sahabat lama ketika masih menyandang pridikat mahasiswa baru. Seorang yang cerdas, baik hati, dan sahabat yang mau mendengar keluh kesahku. Ya setidaknya ku akui ia adalah sahabat yang mampu membuatku nyaman disisi nya bahkan ia bisa mengerti aku sampai ke akar-akarnya.
Akar. Artinya masa lalu. Masa lalu memiliki rumus matematika dalam ensiklopedi hidupku. Masa lalu = hal yang tak ingin di ingat.

Begitulah rumus tetapnya.

Tak jarang kami bertengkar dan berdamai. Bahkan aku dibuat menangis begitu juga sebaliknya. Tapi hebatnya sahabatku ini, ia sangat mengerti aku seperti apa. Hal yang tak pernah kuperoleh dari sahabatku manapun. Katanya sih aku sangat susah di tebak dan susah didekati.

Apa salahku .? apa bedanya aku dengan yang lain..?
Lelah jemari ini menyeka air mata. Lelah mata ini terus-terusan mengeluarkan air mata. “Ada yang salah dengan diriku”

“Apa yang salah dengan ku?”
“tidak ada yang salah kok dengan kamu.”
“Kenapa aku ngerasa berbeda dengan yang lain?”
“Karena kamu unik.” Dengan senyumnya yang menyejukkan hati.
“ah.. Bohong. Unik = aneh.”

Begitulah ia. Selalu menyejukkan hati sahabatnya. Aku tau aku bukan lah hal istimewa dalam hidupnya. Kebaikannya, senyumnya, perhatiannya ia tujukan kepada semua orang. Aku menyadari itu. Tapi siapa yang peduli. Cukup ia dalam hari-hariku.

Ia seperti pil ekstasi. Membuatku ketagihan akan kehadirannya. Membuatku tak bisa jauh-jauh dari dia. Karena aku terlalu takut menghadapi dunia sendirian. Ia, adalah payung yang bisa kupeluk saat hujan dan ku bawa kemana-mana saat hari cerah.

Ketika ia tak ada, maka aku akan berfikir hal-hal yang membuatku ketakutan sendiri. Dan ketika ia hadir, aku akan tenang terkendali lagi. Hal ini semakin menguatkan argumen bahwa “Ada yang salah dengan diriku!”

Tapi apa ..?

Aku tau kenapa aku hidup tanpa jiwa seperti mayat begini. Setelah bersamamu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku takut kehilangan orang tua untuk yang kedua kalinya. Suatu cerita di masal lalu, bahwa aku pernah berpisah dengan orang tuaku di usia penuh bimbingan orang tua seharusnya.

Orang tua ku sakit entah apa, bahkan dokter manapun tak bisa mendiagnosa penyakit ayahku. Dan ibuku terus mendampingi ayahku mencari obat yang juga kami tak tau apa. Keluarga besarku kebanyakan menyingkir dan tenggelam bersama semakin miskinnya kami. Bahkan aku pun harus berpisah dari orang tuaku dan hidup bersama guru SD ku yang begitu baik hati mengizinkan aku tinggal di rumahnya dan orang tua ku keluar kota bersama adek ayah.

Aku polos hanya tersenyum dan tegar menghadapi hidup. Ia tegar karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku kecil begitu polos dan lugu, oppa. Tapi begitu lucu dan jujur. Kehidupan tak pernah mulus setelahnya. Namun Aku kecil tetap tersenyum dalam ketidak tahuannya.

Aku sering mengintip dan mencuri dengar tetangga depan rumah ibu guru. Mereka nampak bahagia. Setiap sore selalu bercanda dan tertawa bersama. Bahkan gummi pun ikut tertawa meski hanya mencuri dengar dari gelak tawa mereka.

Setelah 3 tahun berpisah mukjizat Allah menyatukan bingkai keluarga kecil kami, meski bertempatan di rumah sewaan yang kecil, tapi kehidupan gummi berubah. Badan yang kurus dan tak bertenaga kini terisi lagi. Jika dulu selalu menanti nantikan telepon mama, kini bisa memeluk mama sepuasnya.

Aku kecil masih tersenyum dan ceria seperti biasa. Bahkan tak menyadari perbedaan apa yang tengah terjadi.

Usia SMP, gummi masih ingin terus bermain bersama mama papa. Padahal teman-teman gummi sudah mengenal kata “pacaran”. Aku juga kenal kok itu apa, tapi tak pernah aku mengerti itu apa. Aku masih ingat dengan jelas, bahwa aku di gelari “kekanak2an”. Aku masih saja tersenyum dan bahagia. “Anak mama”, “anak manja”. Semua lewat.

Dan semua pun berawal.
“Masuk SMA ini ya”.
“Lah. Pingin keluar kota, ma”
“Udah. Ini aja.”
tanpa semangat dan tanpa perlawanan. Berkas pun masuk ke SMA yang di minta orang tua. Itu lah awal hari aneh dimana aku baru menyadari keanehan dan kehampaan dalam hidupku.
“Masuk Fakultas ini ya. Universitas ini ya”

Sekali lagi. Tanpa perlawanan. Hati pun langsung diam seribu kata.

Apapun yang orang tua ku katakan. Selalu aku turuti. Orang tuaku hanya meminta aku sekolah disini dan disana tanpa menyertakan akademik yang memuaskan dilampirkan. Ku kasih semua...

Baru saja ku sadari. Semua itu kulakukan karena aku takut kehilangan keluargaku sekali lagi. Aku sangat takut..

Impianku, cita-citaku, hidupku, proker hidupku semua rela kubuang agar orang tuaku bahagia. Agar tak berpisahnya kami sekali lagi. Semacam trauma di masa kecil yang maha dahsyat ternyata.

Tapi.
Kini untuk apa lagi aku membuang impianku. Mama dengan tumor payudaranya. Papa yang mau berangkat naik haji, yang kata orang siap hidup dan mati.

Untuk apa aku kuliah sejauh ini membuang semua impianku kalau di wisuda dan pelantikan dokterku mereka tak hadir. Manusia hidup baik dengan kelurga dan impian mereka. Tapi aku nyaris kehilangan semua. Semuanya.