Matahari.
Bulan. Bintang. Pagi. Siang. Malam. Selalu seperti itu. Diam-diam alam
berkhianat. Berbisik dibelakang. Menikung matahari agar pergi dan menggantinya
dengan bulan. Bulan kecil yang lemah, tak mampu mengusir matahari begitu saja.
Ia kembali dengan taringnya. Mengaum dan mengamuk di angkasa. Awan tak
bergeming. Diam mengheningkan cipta. Karena hidup matinya setipis kulit
manusia. Jika ia bergerak tak sesuai keinginan matahari, matilah ia. Matilah ia
dalam kebinasaan yang memilukan. Jatuh terijak-injak pada perut bumi yang
murka.
Sang
raja Matahari mencekam. Awalnya ia bersahabat pada alam. Tersenyum seakan-akan
semua kegelapan telah sirna oleh kehadirannya. Dengan penuh wibawa dan membuat
hati burung-burung cerewet menyanyi bahagia. Babak pertama dimulai. Dimulai
dengan harapan para penduduk bumi yang tercerca oleh zaman.
Aku
termenung bosan dalam kecamuk perang khayalanku. Mencoba menemukan apa bedanya sang
presiden dengan matahari. Mencoba mengaitkan alam dengan nasibku dan bangsa
ini. Agar aku ada sesuatu untuk berfikir selain bapak dan emak.
Jika
mati adalah jawabannya, pasti pisau dapur sudah kuambil. Sepucuk surat
permintaan maaf kepada emak aku tuliskan. Jika hidup sesederhana itu. . .
“Dul,
jangan lupa doakan bapak ya nak. Juga dahulukan doa untuk diri kamu dulu”
Aku
heran, mengapa emak bisa tersenyum disaat seperti ini. Disaat aku sendiri
berdiri di garis perbatasan antara kota malas dan kota bosan.
“Iya
mak”
Haruskah
aku berdoa? Didengarkah? Ah... aku sendiri terlalu cinta dengan Allah meski aku
nakal dan bandel.
“Ya
Allah,. Maafkanlah aku. Maafkan dosaku,. Lancarkanlah rezeki kami, sesungguhnya
kami tak memakan rezeki yang Engkau beri kepada kami untuk diri kami sendiri.
Dan ya Allah, .. emm.. aku rindu Bapak. Jagalah ia , karena beliau telah
menjaga kami dengan baik”
Cess...
Ada embun pagi di sore ini. Aku menunduk dan bersujud penuh syahdu. Bukan
karena emak disampingku, atau karena merindukan bapak. Hanya memang aku
menginginkan itu. Dari hatiku.
Tidakkah
bisa setan diam saja di pojokan? Bergumam penuh hasrat di telingaku. Ia
bisikkan untuk segera saja kuakhiri kemesraanku dengan Nya. Jika tugas mencuci
ini selesai, aku harus segera untuk menjemurnya. Ahh.. kenapa lagi ini kaki, .
. hei... Ayo jalan ke sumur, kaki! Ah... apalagi ini.. hei mata, apa yang kau
lihat disana? Tidakkah kau dengar aku memerintahkanmu untuk menuju ke sumur?
Sebelum tikus-tikus curut itu kembali ke bak pakaian kotor dan menggigiti
baju-baju usangmu?
Tunggu
sebentar, apa itu? Apakah itu Sponge Bob? Episode berapa ini? Aku belum pernah
melihat sebelumnya. Ya ya ya... benar sekali, aku belum pernah melihat adegan
ini, adegan ketika Patric kehilangan tempurung kepalanya dan menggantinya
dengan tempurung lain yang ia temukan. Menjadi pintar sekali ia, memecahkan
banyak teori matematis, hingga menemukan teori keharmonisan dalam nada.
Ah..
sukses.. sekali lagi aku terjebak pada TV ini.
“Katanya
mau nyuci, dul?”
“Bentar
mak, belum nonton episode ini”
Tanpa
menoleh tanpa ekspresi, aku menjawab pertanyaan emak. Emak hanya diam. Entah
kemana emak sekarang. Di dapur mungkin. Aku cukup sibuk dengan ini.
“Mak..
apa aku bisa menukar tempurung kepala ku agar aku pintar?”
“Kamu
sudah diciptakan pintar”
“Jika
aku cukup pintar, aku tak akan perlu bersusah payah menghafal IPA. Itu
menyebalkan”
“Apa
patric hanya pintar dalam matematika saat tempurung kepalanya di ganti?”
“Tidak. Ia juga pintar
memainkan clarinet Squidward”
“Apa
patric bahagia dengan tempurung barunya?”
Aku tak
dapat berfikir selain mengingat-ingat jalan cerita tadi. “Tidak.. dia tidak
bisa bermain dengan Spoge Bob seperti dulu”
“Lalu...?”
“Dia memutuskan mencari
tempurung kepalanya yang lama”
Aku
terdiam...
“Tapi
mak, aku ingin tempurung kepalaku diganti. Aku ingin pintar.”
“Apa
kau ingat saat Patric ingin menulis sebuah lagu namun dia tak bisa menulisnya?”
“Emm..”
. Aku mencoba mengingat-ingat. A.... aku ingat sekarang. “Patric meminjam ruang
perpustakaan Sponge Bob dan juga kertas dan pensil. Lalu ia mulai, namun tak
bisa-bisa. Lalu Sponge Bob datang menggendong Gerry, yang disangka Patric
adalah bola tangan. Dan ia ada trauma dengan itu. Haha...”
“Lalu Sponge Bob
menyemangati Patric agar memulainya pelan-pelan. Akhirnya Patric mulai
berfikir. Sampai otakny berasap hingga rumah Squidward”
iih...
Sungguh aneh Patric ini, ya....
“Mengapa
kamu tak mencoba duduk di meja belajarmu. Dan ambil kertas dan pensil. Kemudian
paksa otakmu berfikir. Emak janji tidak akan mengeluh dengan bau asap yang
keluar”
Emak
tersenyum santai sambil memandangiku yang kebingungan.
“Tapi,
Mak. Seluruh Bikini Bottom tak ada yang menyukaiku nanti. Bahkan grup band yang
menyanyikan lagu Patric mati setelah itu. Aku tak mau berakhir menyedihkan.”
“Itu
karena Patric terlalu lama tak menggerakkan otaknya untuk berfikir.”
Aku
masih diam. Apa maksudnya emak ini ya kira-kira.
“Dula
masih belum terlambat untuk belajar”
Aah..
kini aku mengerti maksud emak. Sebelum aku dikatakan pecundang oleh seluruh isi
kota karena kebodohanku. Atau menjadi bayang-bayang Sponge Bob. Setidaknya aku
harus mulai menggerakkan otakku. Setidaknya aku bisa menjadi seperti Sandy, si
ilmuwan. Atau setidaknya mrs. Puff yang mengajar di Sekolah Mengemudi. Ah...
atau jelek-jeleknya seperti Squidward menjadi kasir di restoran.
“Mau
kemana kamu, Dul?”
“Belajar,
mak. Biar gak kayak Patric..”
“Wah..
Pintarnya anak emak. Tapi nyuci dulu ya, senin seragamnya dipake”
Emak
kok enggak lupa sih sama yang satu ini.