Sabtu, 23 November 2013

Panggil Aku Patric

                Matahari. Bulan. Bintang. Pagi. Siang. Malam. Selalu seperti itu. Diam-diam alam berkhianat. Berbisik dibelakang. Menikung matahari agar pergi dan menggantinya dengan bulan. Bulan kecil yang lemah, tak mampu mengusir matahari begitu saja. Ia kembali dengan taringnya. Mengaum dan mengamuk di angkasa. Awan tak bergeming. Diam mengheningkan cipta. Karena hidup matinya setipis kulit manusia. Jika ia bergerak tak sesuai keinginan matahari, matilah ia. Matilah ia dalam kebinasaan yang memilukan. Jatuh terijak-injak pada perut bumi yang murka.
                Sang raja Matahari mencekam. Awalnya ia bersahabat pada alam. Tersenyum seakan-akan semua kegelapan telah sirna oleh kehadirannya. Dengan penuh wibawa dan membuat hati burung-burung cerewet menyanyi bahagia. Babak pertama dimulai. Dimulai dengan harapan para penduduk bumi yang tercerca oleh zaman.
                Aku termenung bosan dalam kecamuk perang khayalanku. Mencoba menemukan apa bedanya sang presiden dengan matahari. Mencoba mengaitkan alam dengan nasibku dan bangsa ini. Agar aku ada sesuatu untuk berfikir selain bapak dan emak.
                Jika mati adalah jawabannya, pasti pisau dapur sudah kuambil. Sepucuk surat permintaan maaf kepada emak aku tuliskan. Jika hidup sesederhana itu. . .
                “Dul, jangan lupa doakan bapak ya nak. Juga dahulukan doa untuk diri kamu dulu”
                Aku heran, mengapa emak bisa tersenyum disaat seperti ini. Disaat aku sendiri berdiri di garis perbatasan antara kota malas dan kota bosan.
                “Iya mak”
                Haruskah aku berdoa? Didengarkah? Ah... aku sendiri terlalu cinta dengan Allah meski aku nakal dan bandel.
                “Ya Allah,. Maafkanlah aku. Maafkan dosaku,. Lancarkanlah rezeki kami, sesungguhnya kami tak memakan rezeki yang Engkau beri kepada kami untuk diri kami sendiri. Dan ya Allah, .. emm.. aku rindu Bapak. Jagalah ia , karena beliau telah menjaga kami dengan baik”
                Cess... Ada embun pagi di sore ini. Aku menunduk dan bersujud penuh syahdu. Bukan karena emak disampingku, atau karena merindukan bapak. Hanya memang aku menginginkan itu. Dari hatiku.
                Tidakkah bisa setan diam saja di pojokan? Bergumam penuh hasrat di telingaku. Ia bisikkan untuk segera saja kuakhiri kemesraanku dengan Nya. Jika tugas mencuci ini selesai, aku harus segera untuk menjemurnya. Ahh.. kenapa lagi ini kaki, . . hei... Ayo jalan ke sumur, kaki! Ah... apalagi ini.. hei mata, apa yang kau lihat disana? Tidakkah kau dengar aku memerintahkanmu untuk menuju ke sumur? Sebelum tikus-tikus curut itu kembali ke bak pakaian kotor dan menggigiti baju-baju usangmu?
                Tunggu sebentar, apa itu? Apakah itu Sponge Bob? Episode berapa ini? Aku belum pernah melihat sebelumnya. Ya ya ya... benar sekali, aku belum pernah melihat adegan ini, adegan ketika Patric kehilangan tempurung kepalanya dan menggantinya dengan tempurung lain yang ia temukan. Menjadi pintar sekali ia, memecahkan banyak teori matematis, hingga menemukan teori keharmonisan dalam nada.
                Ah.. sukses.. sekali lagi aku terjebak pada TV ini.
                “Katanya mau nyuci, dul?”
                “Bentar mak, belum nonton episode ini”
                Tanpa menoleh tanpa ekspresi, aku menjawab pertanyaan emak. Emak hanya diam. Entah kemana emak sekarang. Di dapur mungkin. Aku cukup sibuk dengan ini.
                “Mak.. apa aku bisa menukar tempurung kepala ku agar aku pintar?”
                “Kamu sudah diciptakan pintar”
                “Jika aku cukup pintar, aku tak akan perlu bersusah payah menghafal IPA. Itu menyebalkan”
                “Apa patric hanya pintar dalam matematika saat tempurung kepalanya di ganti?”
                “Tidak. Ia juga pintar memainkan clarinet Squidward”
                “Apa patric bahagia dengan tempurung barunya?”
                Aku tak dapat berfikir selain mengingat-ingat jalan cerita tadi. “Tidak.. dia tidak bisa bermain dengan Spoge Bob seperti dulu”
                “Lalu...?”
                “Dia memutuskan mencari tempurung kepalanya yang lama”
                Aku terdiam...
                “Tapi mak, aku ingin tempurung kepalaku diganti. Aku ingin pintar.”
                “Apa kau ingat saat Patric ingin menulis sebuah lagu namun dia tak bisa menulisnya?”
                “Emm..” . Aku mencoba mengingat-ingat. A.... aku ingat sekarang. “Patric meminjam ruang perpustakaan Sponge Bob dan juga kertas dan pensil. Lalu ia mulai, namun tak bisa-bisa. Lalu Sponge Bob datang menggendong Gerry, yang disangka Patric adalah bola tangan. Dan ia ada trauma dengan itu. Haha...”
                “Lalu Sponge Bob menyemangati Patric agar memulainya pelan-pelan. Akhirnya Patric mulai berfikir. Sampai otakny berasap hingga rumah Squidward”
                iih... Sungguh aneh Patric ini, ya....
                “Mengapa kamu tak mencoba duduk di meja belajarmu. Dan ambil kertas dan pensil. Kemudian paksa otakmu berfikir. Emak janji tidak akan mengeluh dengan bau asap yang keluar”
                Emak tersenyum santai sambil memandangiku yang kebingungan.
                “Tapi, Mak. Seluruh Bikini Bottom tak ada yang menyukaiku nanti. Bahkan grup band yang menyanyikan lagu Patric mati setelah itu. Aku tak mau berakhir menyedihkan.”
                “Itu karena Patric terlalu lama tak menggerakkan otaknya untuk berfikir.”
                Aku masih diam. Apa maksudnya emak ini ya kira-kira.
                “Dula masih belum terlambat untuk belajar”
                Aah.. kini aku mengerti maksud emak. Sebelum aku dikatakan pecundang oleh seluruh isi kota karena kebodohanku. Atau menjadi bayang-bayang Sponge Bob. Setidaknya aku harus mulai menggerakkan otakku. Setidaknya aku bisa menjadi seperti Sandy, si ilmuwan. Atau setidaknya mrs. Puff yang mengajar di Sekolah Mengemudi. Ah... atau jelek-jeleknya seperti Squidward menjadi kasir di restoran.
                “Mau kemana kamu, Dul?”
                “Belajar, mak. Biar gak kayak Patric..”
                “Wah.. Pintarnya anak emak. Tapi nyuci dulu ya, senin seragamnya dipake”

                Emak kok enggak lupa sih sama yang satu ini.

Jumat, 22 November 2013

Memasak

Ada sesuatu yang bisa dibilang bingun, atau pantas dibingungkan. Karena nampaknya bulan ini tak ada ide untuk menulia di blog (*lha ini apa). Hehe..ya maksudnya menulis di blog seperti biasa. Konten eksperimen gagal jd sok puitis. Heleh... lupakan...

Ide bulan ini justru tak ada melo2nya... ntah karena lagi gak melo atau gak sempet melo.. bisa jadi bisa jadi.. tidaak tidaak (*apa soh sas -,-)

Yaudah siih.. kenapa jadi menunjukkan kegalauan di tulisan. . Hoho..

Jadi intinya, sekarang lagi demen masak... sebenernya dari dulu sih, cuma ya emang baru2 ini mulai lagi masak2... hoho... apa aja masakanku...? Jangan salaah... mulai dari masakan indonesia, jepang, kampung, masakan ala ramadhan, apalagi ala mahasiswa adaaa... hehe...

Ada yang istimewa dimasakanku (*narsis dikit).. yaitu bumbu yg seadanya dan cenderung yg plg murah (*mahasiswa men) daaannn...... juga enak ..yg ngicipi wajib blg enak :x

Helah..... hoho
Pokoknya begitu...
Ini beberapa daftar masakan yg pernah aku buat....
1. Ungkep telor
2. Sambel terong balado
3. Kolak
4. Piscok
5. Pastel buah
6. Roti bakar
7. Sushi
8. Sayur rumahan (sop, oseng2, sayur bening)
9. Soto sapi dan ayam
10. Nugget udang
11. Es buah
12. Nasgor udang :*
13. Cumi
14. Stik sapi
15. Sambal2an
16. Jelly buah
17. Spaghetti
18. Mie dokdok
19. Dll

Dll = mean i don't remember anymore, or just it. Haha

Pokoknya gitu2 lah...