Selasa, 10 Juli 2012

Perempatan Jakal Pasca

perempatan jakal pasca. pastinya bukanlah suatu tempat asing lagi untuk warga jogja, terutama warga ugm. perempatan yang besar yang rindang-rindang panas gimana gitu. rindang karena hutan biologinya dan hutan utara balairung, tapi panasnya kalau nunggu lampu merah berbah jadi (setidaknya) kuninglah atau hijau.

perempatan ya yang lumayan gedhe lah. minimal kalau kena lampu merah bakalan lama banget nunggu nya, dan otomatis disanalah media pemanfaatan yang tepat untuk "masang" baliho, spanduk, pamflet atau apa saja lah yang bisa di pasang dan bisa di baca. tak hanya publishing saja yang bisa memanfaatkan momentum ini, rupanya berbondong-bondong ibu-ibu menggendong anaknya pun ikut berpartisipasi dengan menggerai tikar disana sambil senjata berupa kaleng bekas air minum gelasan dan sehelai kain lap. bersama anak-anak mereka usia belasan tahun, anak-anak mereka yang baru belajar merangkak, mengelap peluh dari matahari jogja yang  panas. melawan asap knalpot dan ribuan polutan.

bagi mereka lampu merah adalah anugrah, meski bagi pengendara motor artinya harus bersabar menunggu. bagi mereka sehelai kain adalah penghidupan meski kira mungkin membuangnya..

aku benar-benar tak tau mengapa jalan ini yang mereka pilih. tatapan mereka bukan tatapan jalanan, hanya tatapan ibu rumah tangga biasa. ya. ibu rumah tangga sederhana. menggendong anak, mengasuh anak, memantau mereka dari kejauhan. tapi bukan dirumah, di perempatan lampu merah.

aku terus bertanya. berapa liter polutan yang mereka hisap tiap harinya. seorang anak usia SD dan SMP bermain di bawah lampu hijau dan lampu merah pertanda permainan terhenti sejenak ,kemudian kembali mendatangi sepedha motor satu persatu sambil berharap ada yang mau mereka lap motornya. seperti sebuah siklus. bergulir begitu setiap hari.

antara bersyukur dan menangis rasanya. bersyukur karena tak kuliah di daerah sekitar mipa,fk,teknik. menangis karena aku hanya bisa menghindar dan menutup mata dari apa yang terjadi di depan mata. padahal karena mereka aku bisa bersekolah dan kuliah, di kos yang nyaman dan belajar dengan tenang. mereka siang malam terus berada di perempatan itu. perempatan yang panas, penuh polusi, bising dan benar-benar bukan disana mereka berada.

bahkan tanpa mereka, siapa yang akan membiayai kuliahku ini? ini  uang rakyat! bukankah setiap warga negara baik kaya ataupun miskin, pintar maupun tak pintar memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak..? aku benar-benar tak tau apa yang mereka pikirkan. ingin sesekali bertanya, "kalau gedhe pingin jadi apa dek?", sambil mengusap-usap rambut mereka.

mereka juga rakyat indonesia, juga disebutkan dalam UUD 45. tapi kenapa laparnya mereka dan laparnya kita berbeda. menapa alas tidurnya mereka dan alas tidurnya kita juga berbeda. dan kenapa untuk belajarpun seperti ada kasta disana.

menangis melihat itu. menangis. perempatan jakal... engkau benar-benar menyimpan sejuta cerita dari dunia yang berbeda...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar