Angin semilir bukit sakura
Dengan sinar matahari senja mengkanvas orange awan
Aku berdiri di atas batu terjal di bawah naungan akasia yang
bernyanyi kicauan penutup hari
Tersibak pintu almari itu
Yang ku simpan rapat-rapat bersama berlembar-lembar kenangan
Aku mulai menutup mata
Dan dirimu pun mulai kembali menari di atas sana
Aku berjalan di keheningan bulan sabit
Diam tanpa isyarat mendekatiku dengan pasti
Aku melihatmu tersenyum kepadaku
Dan rupanya aku terjebak pada nostalgia
Kupaksakan mataku terbuka
Dan dirimu pun mulai berjalan kearahku
Aku terdiam dalam bekunya salju himalaya
Diam tanpa kata mengulurkan jemariku ke arahmu
Aku melihatmu mulai memudar bersama terbenamnya senja
Dan rupanya aku terjebak pada nostalgia
Aku berjalan di bawah sinar rembulan
Dan Langit bertabur gugus bintang
Aku mulai menapaki jalan berliku yang membeku
Kaki kecilku kedinginan dan kebingungan
Sayup-sayup kudengar alunan dawai gitarmu
Dan kuputuskan berlari untuk menemukanmu
Rembulan terbenam di hatiku
Angin berhembus pada delapan mataangin
Dan bintang memantulkan bayang hitam
Aku tak menemukanmu selain kenangan itu
Dan rupanya aku terjebak pada nostalgia
Diriku seakan terbenam pada bayangan hitam abu-abu
Aku kebingungan berdiri tanpa pegangan
Memutihkan airmata yang terjatuh bersama desiran angin timur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar