Sabtu, 14 Desember 2013

Ranting yang Patah

“Nak, bapak sekarang sakit. Kamu yang sabar ya. Sekarang kita tinggal bareng Budhe Wiwin, insyaAllah untuk sementara saja”. Hanya ada anggukan dari gadis kecilku membalas kata-kataku di keheningan.
****
            Ranting pohon tak kuat menahan dedaunan. Berguguranlah ia diterpa angin pegunungan. Hawa panas berganti menjadi dingin. Jalanan datar makin menanjak. Ku kendarai sepeda motor hitam metalic ini dengan tatapan menerawang membayangkan anakku menungguku di rumah tetangga yang aku tumpangi. Aku duduk dan roda berlari. Menginjak aspal hitam yang tak pernah merintih.
            Andai derita suamiku bisa dibagi, aku ingin membantunya memanggul rasa sakit itu. Dokter tak dapat mendiagnosa penyakit suamiku, bahkan suamiku dinyatakan sehat. Baik tes darah, tes urin, entah tes apalagi waktu itu. Tapi suamiku terus-terusan mengerang kesakitan. Kulitnya yang putih melepuh bernanah, badannya yang tegap menjadi kurus entah kemana kegagahannya dahulu. Lalu kepada siapa aku berobat untuk suamiku, ya Gusti Allah.
            Aku pamit sebentar untuk memastikan anakku sudah makan siang, dan tidak berbuat yang menganggu pemilik rumah. Sejak suamiku sakit, tak ada lagi yang mencari uang. Apalagi dirumah sakit biaya tak bisa diajak kompromi, sehingga kontrakan tak sanggup kami bayar. Alhamdulillah ada tetangga yang setidaknya mau menerima kami sementara berteduh di rumahnya.
            Sudah sampai rupanya. Aku hampir lupa berbelok ke rumah putih berpagar kuning itu. Ah.. Sudah 4 tahun mengontrak disana, sekarang kalau pulang harus membelokkan setir motor ke kanan, bukan ke kiri seperti biasanya. Kucari-cari kemana gerangan gadis kecilku sambil memarkir motor di halaman.

“Assalamu’alaykum.. Mbak Win, adek mana mbak..?”
“Wa’alaykumussalam.. Adek bobo mbak, dikeloni mbak Arum. Mas Eko di rumah sakit sama Ibu, Mbak?”
“Alhamdulillah adek bobo. Oh iya, Mbak. Mumpung Ibu besuk, pulang sebentar ambil baju dan nyuci baju adek.”
            Alhamdulillah gadisku bisa tidur siang, semoga sewaktu aku tinggal tidak rewel. Ah, adik perempuanku juga. Ia sudah ikut dirumahku semenjak aku menikah dengan suamiku, tepatnya 7 tahun silam. Akankah aku harus memulangkannya ke ibu karena kondisi keluargaku ini yang tak memungkinkan untuk merawatnya lagi seperti dahulu. .?
“Duh Gusti, kuatkan kami”. Ku cium kening gadis kecilku.
“Mbak, sudah pulang? Bagaimana kondisi mas Eko?”. Ternyata adikku terbangun karena kedatanganku.
“Ya di doakan saja mas mu cepat sembuh ya, Dek.”
            Tatapannya langsung suram. Wajahnya tak lagi ada keceriaan. Sepertinya banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi semua tercekat ditenggorokan, dan kesunyian sesudahnya.
 “Mbak, sebenarnya tadi aku naruh uang di saku baju sekolah, sepulang sekolah aku gantung bajunya. Sewaktu aku mau masukin dompet, uangnya sudah tak ada. Padahal aku yakin uangnya disitu. Lalu..”

Sambil berbisik ia meneruskan ceritanya..

“Dek Supri tadi bisikin aku, “Mbak Arum, tadi Mas Narto ambil uang yang di saku bajunya mbak”. Aku gak berani bilang apa-apa, Mbak”

Ah... Sepertinya memang harus segera aku pulangkan saja adekku, sepertinya ia semakin tersiksa dengan kondisi ini.

“Kamu yang sabar ya, Rum. Sekarang kondisi kita tidak seperti dulu. Mbak sendiri juga enggak kerja, mas mu juga enggak memungkinkah ditinggal lama-lama. Adek juga masih kecil.”

Aku bisa merasakan tatapannya yang semakin menerawang dan sedih itu.

“Mbak, Kita harus bagaimana..”
“Maafkan Mbak sebelumnya, Rum. Tapi setidaknya sampai Mas Eko membaik, alangkah baiknya kamu ditempat Ibu. Setidaknya kamu aman disana.”
“Mbak, Sekolahnya bakal jauh, belum ibu cuek dan Bapak yang kasar suka memaki. Aku enggak tahan disana.”
“Bersabarlah, Mbak janji sampai Mas Eko sehat kamu mbak jemput lagi dan sekolah disini.”
            Air mata yang tak terbendung antara aku dan Arum seakan semakin membuktikan ketidak berdayaan kami.
“Lalu adek bagaimana, mbak..”
“InsyaAllah Adek akan mbak titipkan ke Bu Siti, wali kelasnya. Mbak berencana pindah ke rumahnya Dek Edi di Trenggalek untuk dicarikan obat alternatif untuk Mas mu. Bapak dan Ibu sepertinya juga sudah tidak sanggup untuk ini.”
“Mbak... Semoga Mas Eko segera sembuh”
            Siang itu hanya ada air mata dan wajah-wajah wanita yang berdiri diambang garis menyerah. Juga saling berpelukan menangis tak bedaya. Ah.. Setidaknya aku masih punya adek kecil yang sekarang tertidur pulas. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah adek bisa menjalani ini semua. Di satu sisi suamiku kondisinya sangat menyayat hati. Tak bisa berdiri, tak bisa duduk, berak di atas kasur. Disisi lain adek sekolah harus disini dan jika adek ikut kami merantau ke Trenggalek, pasti akan membebani Keluarga Dek Edi di trenggalek yang notabenya pedagang kios di pasar tradisional dan juga masih menghidupi istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil.
            Semoga ini keputusan terbaik untuk keluarga kami semua.
**
3 Tahun kemudian
**
“Assalamu’alaykum, Adek manis”
“Wa’alaykumussalam, Ibuuuu”
“Lagi apa hayo tadi..”
“Hehe.. biasa Bu, mainan sepedaan sama temen-temen”
“Masak cuma sepedaan?”
“Sama petak umpet. Ah tadi si Asih masak nangis bu, gara-gara dia kalah mulu mainnya. Padahal nih adek udah berusaha ngalah, tapi tetep aja dia nangis. Yaudah, akhirnya aku yang gantiin dia jaga”
“Haha.. Sudah sholat Dzuhur belum? Bentar lagi jam 3 kan masuk TPA dek, udah mandi belum?”
“Males ah mandi, Bu. Basah.”
“Kalau gak mandi, ntar malaikatnya pingsan lho”
“Aku pinjemin masker ntar, Bu..”
“Malaikatnya  enggak mau dipinjemin masker, soalnya gak mau dibalikin ntar”
“Ah.. Jangan. Itukan kadonya dari Bapak dulu.”
“Ya sudah, mandi ya nak.. Bu Guru ada?”
“Ada, bu. Bentar yaa.. “Bu Guruu.. Bu Guru.. telpon mama”.. Ini bu, Bu Guru”
“Hallo, Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam, Bu Siti.. Bagaimana kabarnya..?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarnya, Bu. Sehat? Pak Eko gimana?”
“Alhamdulillah dagangan bunga lumayan, Bu. Di ajarin Dek Edi ngrangkai bunga, besok-besok saya bawakan ke Selosari bunganya, insyaAllah. Bapak insyaAllah di carikan terus alternatifnya. Semoga ada yang cocok”
“Amien.. Jangan khawatir, Bu. Adek disini insyaAllah baik-baik. Sekarang lagi mandi mau berangkat TPA”

“Iya, makasih banyak, Bu Siti. Keluarga saya tak ada yang mau di tumpangi adek, tapi malah guru SD nya yang bukan keluarga malah yang membantu kami, kami sangat-sangat berhutang budi.”

“Jangan begitu, Bu. Adek kan murid saya yang pinter, baik juga cantik. Saya enggak mau saja dia ikut terombang-ambing pendidikannya karena harus ikut bapak ibunya berpindah-pindah. Setidaknya disini dia masih punya teman yang sudah mengerti keadaannya juga pihak sekolah yang juga memahami adek. Apapun kondisinya, pendidikan adek yang paling utama. Juga psikologisnya. Ibu juga yang sabar ya kangen adek. Adek juga suka kangen ibu”

“Iya, bu. Meski harus terpisah, insyaAllah memang ini yang terbaik untuk adek dan masa depan adek. Biarlah saya berjuang melawan nasib disini dan menahan rindu dengan adek, asal adek bisa pinter”

“Iya, Bu. Alhamdulillah kemaren ulangan IPS nya adek dapat 9,7 bu. IPA nya juga 9,5. Cuma matermatikanya adek agak kurang, bu. 7,8 nilainya”.

“Alhamdulillah, nilai adek masih banyak yang bagus-bagus, meski matematikanya masih kurang. Mungkin apa baiknya di les kan saja ya, Bu..?”

“Wah, mungkin itu perlu, bu. Ini adek kalau habis sekolah main terus sampai maghrib sama teman-temannya. Kadang maghrib masih lanjut mainnya, saya mau negur juga bingung. PR nya biasanya gak lama ngerjainnya dan pada betul semua. Lalu mainnya di rumah. Mungkin kalau di les kan, adek mainnya agak berkurang ya bu.”

“Oh, iya. Begitu saja, Bu. Tapi dimana ya kiranya adek di leskan?”

“Di tempat Pak Pangat saja, Bu. Disana insyaAllah bagus, juga bayarnya seikhlasnya. Tapi karena bayar seikhlasnya, satu kelas bisa 30 orang anak.”

“Mungkin untuk awal-awal disana saja, Bu. Biar adek bisa ngurangi main dan belajar Les.”

“Ya. Tempatnya juga tak jauh, jadi adek bisa naik sepeda atau jalan kaki”

“Oh iya, nanti saya telpon adek lagi saja bu setelah maghrib. Makasih, BU Siti. Wassalamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalam”

*tuut..tutt..*

            Meski kau sudah berusaha memutar roda agar dirimu tak terus-terusan terinjak di bawah, namun saat kau tak bisa melakukannya, maka kau harus lebih kuat mendorong rodanya, lebih lagi dan lagi. Suamiku yang terbaring lemah di kamar, anakku nun jauh di rumah orang, dan adik ku yang terus menungguku menjemputnya.
            Patahan dahan bisa remuk dan terinjak, bahkan tergilas roda hingga tiada sisa. Namun tak ada satupun suara darinya yang mengaduh, mengeluh maupun menangis. Anakku, kaulah ranting kecil itu. Meski engkau terpisah dari pohonmu, meski nasib menggilas habis kebahagianmu, namun engkau terus bertahan dan berdoa agar kelak ada angin yang menerbangkanmu kembali kepada pohonmu.
            Bertahanlah, ibu akan segera kembali dan bapak akan bergegas berlari menggendongmu lagi. Dan kita akan hidup bahagia seperti dulu, ibu janji.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar