Rabu, 19 Februari 2014

Secangkir Kopi

Kau secangkir kopi pada senja hari
Dinanti dan dirindu di atas cawan keramik
Bertubuhkan cangkir kecil warna warni
Pelepas penat kerja seharian ini
Bagai morfin dan heroin
Aku mulai kecanduan menikmati
Tapi kau ini bukan morfin atau heroin
Hanya sedikit kafein
Ya ya ya
Kafein...


Aku dan Bayanganku

angin menggoyangkan pucuk bunga
membawa pula aromanya melayang ke langit
aku hanya mampu memandangimu dari sini

ketika hujan turun membasahimu
membawa kehangatanmu bersamanya
aku hanya mampu memandangimu dari sini

saat mentari subuh mulai mengakhiri malam
engkau terbangun dalam sujudmu yang khusyu'
dan aku hanya mampu memandangimu dari sini

Sekalipun sinar bulan berbaik hati
Mengantarkan bayangananmu kepadaku
namun aku hanya mampu memandangimu saja

Benar,
Engkaulah takdir yang hanya mampu ku pandangi oleh bayanganku
Bayanganku memandangimu dengan seksama dalam keheningan
Terdiam dan diam

Walau aku berjalan, setengah berlari dan terjatuhpun
Bayanganku tak mau beranjak dari tempatnya




Rabu, 05 Februari 2014

Tanah Tandus Kami Datang

kami si almamater tiada dua,
bukan karena kami nomor 1 di negeri
bukan karena kami tersohor
tapi kami si almamater tanah tandus nan gersang

kami si almamater tiada banding
bukan hijau juga kekuningan,
tapi ini cukup membuat kepala berpikir "warna apa ini?"
ini warna tanah tandus nan gersang

kami si almamater bercap bunga teratai,
hanya sesaat kebanggan mengenakannya
sebelum kami sadar bahwa di pundak kami ada tanggung jawab untuk bangsa
tiada kebanggan selain pengabdian

karena di atas tanah waqaf ini,
pernah ada darah diantara nyawa yang meregang

entah dari mana, seolah kami lansung memahami begitu saja,
bahwa kami-kami inilah ahli waris sah bangsa ini

kamilah air, benih, dan harapan
merawatnya hingga kita semai bersama buahnya
tanah tandus,.. kami datang...


Antara Dirimu dan Diriku

antara dirimu dan diriku ada jalan, bernamakan waktu
antara dirimu dan diriku ada sebuah garis, bernamakan takdir

antara dirimu dan diriku seperti rel kereta api,
kita di takdirkan bersama sepanjang waktu,
tapi kita tak pernah bisa bersama sampai ujung dunia

antara dirimu dan diriku, ada jarak fana yang tak terjangkau masa
bergumam pada diam dan hanya ada suara hembusan angin
debu semakin meninggi
berubah menjadi tumpukan pasir
hal tak mungkin adalah memertemukan kedua sisi rel kereta api