"jika memang ia penyempurna separuh agamaku, maka mudahkan dalam jalan kami. dan beri kami kenikmatan istiqomah dalam diam ini, Rabb"
dalam malam istimewa Engkau mengunjungi ke gubuk kecil kami, ku panjatkan bait-bait kata tak yang siang tak sanggup menyibaknya. aku terkulai dalam sendu di balik kedua telapak tangan menengadah ke atas. di atas sajadah ini, membentang segenap cerita yang tak sanggup kuucap dengan bibir. hatiku gemetar.
dari balik tirai ini, aku berdoa sambil memandangmu dari jauh. Hanya Ia yang tau sebesar apa ini, karena tiada kata yang mampu mengklaim nya.
aku tertunduk pada setiap ingatanku yang menarik-narik pada suatu garis masa.
seperti pertemuan antara casein dengan methanol, ia menggumpal dalam garis presipitat.
seperti pertemuan Alkyl Aryl Sulfonat dengan sel somatis, ia menjadi viscous.
tapi aku ikhlas jika ternyata bentang waktu tak melabuhkan perahu ini. engkau menemukanku dalam kekosongan. menemukanku dalam kesendirian. disaat dunia memandang sebelah mata, kau memandangku istimewa.kau hapus air mata dengan boneka. kau ubah kekalutanku dengan es krim. dan selalu senyum hangat.
jika ku katakan "aku bahagia jika kau bahagia meski tak denganku", mungkin terdengar munafik. dan mungkin memang begitu. tapi aku akan mencoba :))
Minggu, 25 November 2012
Sabtu, 10 November 2012
Seberkas Kehidupan
suatu sore di antara menumpuknya asam laktat setelah seharian bergelut dengan aktivitas kampus, bersama kita duduk melingkar. mungkin bukan melingkar tepatnya, karena hanya tiga orang disana. formasi apapun raga kita, namun hati dan visi kita adalah satu, Allah.
kita tumbuh dalam media dan dunia yang berbeda, namun apa yang kita cari adalah satu, ridho Allah.
dan karena Allah lah hati-hati ini berkumpul dalam bias perbedaan. mentari di ufuk barat, angin timur semilir membelai kita bergantian, dan langit orange di atas sana lah menjadi saksi janji kita bertiga dan di catat oleh malaikat.
tiada pernah aku lupa apa yang kita ikhrarkan bersama, tiada terlewatkan dalam berkas memory skenario Tuhan saat itu. tiada ku ingat bekas keraguan dan bekas kesedihan di benak kita, tersenyum dalam kepastian, karena kita hanya menggantungkan nasib kepada Allah semata, bahu membahu melangkah bersama,.
sahabat, saudara, teman sejawat apapun definisi kita saat itu, yang pasti kita saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain. dengan perbedaan yang Allah buat menjadikannya semakin indah.
sampai tiba saatnya, aku melakukan segala kesalahan. tiada tabayun disana meski sudah ada usaha.
aku rindu saat-saat itu.
kita tumbuh dalam media dan dunia yang berbeda, namun apa yang kita cari adalah satu, ridho Allah.
dan karena Allah lah hati-hati ini berkumpul dalam bias perbedaan. mentari di ufuk barat, angin timur semilir membelai kita bergantian, dan langit orange di atas sana lah menjadi saksi janji kita bertiga dan di catat oleh malaikat.
tiada pernah aku lupa apa yang kita ikhrarkan bersama, tiada terlewatkan dalam berkas memory skenario Tuhan saat itu. tiada ku ingat bekas keraguan dan bekas kesedihan di benak kita, tersenyum dalam kepastian, karena kita hanya menggantungkan nasib kepada Allah semata, bahu membahu melangkah bersama,.
sahabat, saudara, teman sejawat apapun definisi kita saat itu, yang pasti kita saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain. dengan perbedaan yang Allah buat menjadikannya semakin indah.
sampai tiba saatnya, aku melakukan segala kesalahan. tiada tabayun disana meski sudah ada usaha.
aku rindu saat-saat itu.
Minggu, 04 November 2012
Musim Panas 2012
Memejamkan mata, flashback kebelakang..
Menyeret tubuhku dalam memory musim panas lalu,
saat sebuah ikhrar kita ucapkan,
ikhrar yang seumur hidup tak akan pernah aku lupakan,
antara kita, bertiga.
mungkin hari itu engkau tak ingat aku duduk didepanmu,.
mungkin juga engkau lupa apa janji yang pernah kita buat,
tapi itu adalah hari bersejarah bertinta emas di lembar hariku,
berkanvas seorange fajar, aku memiliki engkau sebagai sahabat, saudara dan nafasku
aku ingat dengan jelas, bagaimana tanpa berfikir membuatmu terluka
terus maaf yang kau beri.
aku ingat dengan jelas, bagaimana tanpa beban kau tersenyum padaku
terus begitu yang kau beri
siangpun menjadi senja dan disusul malam,
air hujanpun diserap bumi menguap ke udara
aku rindu saat-saat hujan masih menyejukkan wajahku
dan saat senja kita duduk bersama
kau mendengar dengan mimik kurindukan itu
aku disini,
terus menanti penuh penyesalan,
hukuman ini,,
membuatku terus-terusan tak bisa tanpa berpegang pada masa lalu
memandangmu dari sudut ruang,
tersenyum melihatmu tersenyum dan menangis kala kau terjatuh
aku tak lagi bisa ikut tersenyum
dan tak bisa mengulurkan tangan
dan tak ada pintu celah untuk aku kembali ke musim panas 2012
Langganan:
Komentar (Atom)


