adakalanya malam kita terjaga dalam lamunan dan kesendirian yang memeluk erat tubuh tanpa bisa meronta
aku duduk di beranda membiarkan alam bawah sadarku memainkan partikel udara yang menari-nari dalam katup bronnkeolus
dan tak mempedulikan warna merah mata yang kering dilalui angin malam
dan kulit yang kedinginan di balik kaos pendek
aku hanya terduduk dan membiarkan semuanya seakan jalan tol.
ada yang berkecepatan tinggi silih berganti,
ada yang berhenti di lampu lalu lintas..
ada pula yang berjalan merangkak melawan arus
berkecamuk menjadi sesuatu yang tak dapat aku rangkai keselarasannya
aku masih terduduk dengan memeluk malam yang semakin gulita
menyimpan segala misteri dalam pekatnya tanpa cahaya
ditemani suara-suara hati yang bising seperti teriakan nyanyian bala tentara
dan aku tak mengedipkan satupun bola mataku hanya untuk menunduk atau mendongak
langit tanpa ornamen bintang dan bulan
membuat hari ini senada dengan suara bising lara
bagaimana aku mengungkap rahasia malam jika rahasia hatiku saja aku tak tahu
..
dan aku tenggelam lagi dalam arus perputaran kebisingan itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar