Terminal maospati ini tak henti lalulalang
kau datang dan pergi tanpa ada yang peduli
kecuali kebisingan roda yang terantuk
bahkan matahari enggan menepi
menyengat ubun-ubun tiap kali kau melawannya
tak ada mendung, hanya burung tersesat yang ada
bangku tak ada yang kosong
penuh debu dan hamba yang kelaparan
waktu itu tak lagi sebentar
semua orang tenggelam dalam bayangan rumah
aku hanya duduk di bangku kosong yang tak lagi kosong
menanti seseorang yang aku nanti
bukan pangeran berkuda putih
atau rombongan mentri
hanya seorang laki-laki sederhana membawa 2 helm
~dengan hati penuh syukur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar