Senin, 23 Februari 2015

ada dan tiada

judulnya cuma kamuflase, sebenernya sama kok intinya kayak postingan sebelumnya, "curhat" (lagi). hehe...

kali ini mau curhat tentang mahkluk "cermin" diri kita, yaitu teman. definisinya benar-benar sesuka hati kita dah. mau mendefinisikan ia adalah "pemakan temen"-lah, "bahu gratisan"-lah, apapun itulah... what u think is what u feel. tapi pastinya definisi teman kalau menurut rasulullah itu adalah orang yang kalau ingin kenal kita bisa dilihat dari dirinya. ya macem tu lah.

sejatinya kenapa kita disuruh punya teman, atau jeleknya2 naluri kita pingin punya teman, yaaa karena hidup ini gak gampang bro.. keseringan  lupa dari pada inget. keseringan bikin dosa dari pada pahala.. nah, teman ininih yang nantinya jadi toa di kuping kita biar ingatin saat kita salah...

itu doang? kagak bro.. kalau kita masuk surga, pasti barengan temen kita.. ga ada cerita ahli ibadah temenan baek sama ahli neraka.. ga akan nyambuuung sob....

eh gitu dlu aja lah curcol nya, perpus nya dah mau tutupp

see uu


curhat aja

ada begitu banyak manusia lupa yang masih tak menyadari bahwa ia lupa. ia lupa siapa dirinya, dari mana ia tinggal, bagaimana dia bisa hidup, bahkan apa tujuan hidupnya saja sering ia terlupa. karena yang nulis juga bagian dari manusia lupa itu sendiri.

karena sejatinya seberapa kuat memori itu menancap adalah seberapa penting hal itu untuk kita, ya walau pun terkadang masih saja kita terlupa padahal sudah amat sangat diingat.

sebut saja ridho Allah. yang mengawetkan ingatan manusia, sebersikeras apapun dan bagaimanapun kita ingin ingat, kalau Allah tak mengijinkan ya tak akan kita ingat. nah, disini letak lupa kita lagi, kadang kita terlalu merasa "sendiri", "single fighter", blablabla apapun itu untuk menghibur segala macam rasa yang gak enak itu. padahal selalu ada Allah. selalu ada Allah. selalu ada. bahkan disaat kita lupa, Allah selalu ingat kita.

so, sahabat.. jangan terlalu menyepelekan walau itu mungkin hal sepele... dan jangan terlalu menyalahkan diri kalau sudah berusaha keras tp tetep aja lupa. dan itu berlaku untuk murajaah, pelajaran, dll.

:))

Senin, 09 Februari 2015

Belum terlambat untuk kita berdua

Aku tahu ini yang terbaik. Tapi sebentar.. Sebentar saja.. Aku butuh kekuatan.. Ah mengapa ia masih tersenyum seperti itu, membuatku semakin sulit mengatakannya. Tapi harus!!

Isan..”

Iyaa...?”, ia menungguku.. Ia menungguku berbicara.. Tapi setelah semua usahaku hanya namanya yang berhasil keluar. Aku harus bagaimana. Tapi aku harus mengatakannya

“mmm...”

Ah keluarlah kata.. Satu.. Dua... “Bismillah..”

Aku rasa kita harus kembali ke jalan yang benar”. Lega

Akhirnya keluar juga kalimat itu. Tapi aku tak berani menatap dia. Aku memilih mengerutkan alis, mengatup bibir rapat-rapat dan menunduk.

Satu detik.. Dua detik.. Hening. Ku beranikan menatapnya sekilas. Dan dia hanya terdiam dan melihatku lekat. Aku sama sekali tak tahu apa yang ada dalam pikiran kekasihku ini. Tak ada yang bisa kurasakan selain desiran darahku yang naik turun, napasku yang tercekik, dan hawa panas dingin yang merayap. Aku masih tak berani menatapnya.

Dia masih diam, dan aku semakin khawatir jika perpisahan yang ku mau berujung prahara. Aku mau mengakhiri kisah cinta monyet ini segera. Dan kembali menjadi Sasa yang santun dan sholihah. Aku juga mau ia kembali menjadi Isan yang cerdas dan sholih lagi.

Aku dengar dia menghela nafas. Dan kuberanikan menatapnya sebentar. Aku yakin ia tahu arti kalimat perpisahanku itu, ya.. Aku yakin ia memahaminya. Hanya sajaa.. Memang ini sesuatu yang sulit untuk kami. Kembali ke jalan yang benar”, setelah menoreh banyak dosa.

Tapi.. Ah tapi.. Sepertinya jiwa muda kami yang penuh api asmara ini seakan meraung-raung minta dituruti. Padahal logikaku mengatakan itu salah. Atau sebenarnya ini adalah salah satu godaan setan yang menginginkan kami terus-terusan berbuat dosa dengan status kami “berpacaran”. Ada pembelaan dari diriku yang lain, bahwa kami tak akan sejauh pacaran seperti remaja-remaja lain yang sampai hamil diluar nikah atau bolos sekolah demi kencan atau hal negatif konyol lainnya. Tapi sekali lagi itu hanya pembenaran. Bukan kebenaran. Nuraniku membenarkan bahwa tak ada yang namanya pacaran sebelum menikah. Aku tahu itu, tapi... Tidak, aku tidak boleh kalah dengan “gejolak jiwa muda” atau apapun yang mengatas namakan untuk pembenaran dari status hubungan yang tak direstui Allah.

Meskipun... Itu juga berarti aku harus kehilangan sosok yang selama ini menghiasi hatiku. Sosok yang selalu ada dalam lamunan dan mimpiku. Sosok yang sudah menggambarkan masa depannya bersamaku kelak.

Ku tatap ia sekali lagi, ekspresinya memang sulit ditebak. Tapi aku tahu ia pasti merasakan hal yang sama. Ia tahu keputusannya untuk berpacaran denganku adalah salah, namun ia sendiri juga bingung bagaimana cara untuk mengakhiri. Jadi salah satu diantara kami memang harus ada yang mengatakannya terlebih dahulu.

Isan...?”. Ku panggil ia sekali lagi.

Aku tak tahu apa yang harus aku katakan”. Jawabnya murung.

Aku bersumpah hanya karena Allah aku mengucapkan tadi. Bukan karena yang lain.”

Ku lihat ia semakin menunduk lebih dalam. Apakah aku mengatakannya terlalu keras hingga sulit ia terima? Entahlah... Aku hanya sedang berusaha mengikhlaskan setiap janji-janji dimasa depan yang telah kami buat.

Ku pandangi lagi ia, dan ada penyesalan saat aku juga mengatakan suka padanya dahulu. Tapi bagaimanapun hal itu sudah menjadi masa lalu yang tak bisa diubah. Dan bukan salahnya yang menyatakan cintanya padaku dahulu, karena salahku juga membalas cintanya. Jadi kami masih memiliki masa depan untuk sama-sama kembali ke jalan Allah yang benar.

Aku … Aku perlu waktu untuk melepasmu..”

Hanya itu yang kudengar darinya sebelum ia memutuskan beranjak dari bangku taman sekolah ini. Kemudian senja mengantarkan bayangannya pergi.

Sasa, apakah kamu sudah melakukannya”. Entah dari mana Tata muncul dan langsung memelukku. Ya benar, disaat seperti ini kehadiran sosok yang siap meminjami bahunya sangatlah penting.

“iya, Ta.. Semoga ia mengerti”.

Pasti. Aku tahu kalian bisa. Aku tahu persis. Jatuh sekali bukan berarti berlama-lamaan menyanjung sakit, bukan?”

Benar apa yang dikatakan Tata. Aku pernah mengambil satu keputusan yang salah dengan berpacaran dengan ketua rohis, dan sekarang waktu yang tepat untuk segera kembali.

Allah menerima taubatku gak, ya Ta..”

Aku kaget, bukannya menjawab pertanyaanku malah ia menempelkan telinganya di dadaku sambil memegang pergelangan tanganku.

Jantung pasien masih berdegup, nadinya juga normal. Kesimpulannya Allah masih memberi waktu untuknya bertaubat.”

Ah Tata, bisa ya bercanda disaat temannya putus cinta. Oke, semoga jadi dokter beneran deh kelak.

Dan percakapan kami berakhir dengan senyum kecil di bibir kami.


Penulis.
Cik Sasmi. Lahir di Magetan Jawa Timur tahun 1992. Menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga SMA di kota kecil itu bersama kedua orang tua dan sepupunya. Mengambil S1 di Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, dan kini sedang menempuh Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Semasa kuliahnya ia habiskan untuk berorganisasi dan membaca buku. Koleksi buku fiksinya jauh lebih banyak dari buku pelajaran. Ia bercita-cita akan menjadi penerus Taufik Ismail, dokter hewan pecinta sastra.