Aku tahu ini yang terbaik. Tapi sebentar.. Sebentar saja.. Aku butuh
kekuatan.. Ah mengapa ia masih tersenyum seperti itu, membuatku semakin sulit
mengatakannya. Tapi harus!!
“Isan..”
“Iyaa...?”,
ia menungguku.. Ia menungguku berbicara.. Tapi setelah semua usahaku hanya
namanya yang berhasil keluar. Aku harus bagaimana. Tapi aku harus mengatakannya
“mmm...”
Ah keluarlah kata.. Satu.. Dua... “Bismillah..”
“Aku rasa kita harus
kembali ke jalan yang benar”. Lega
Akhirnya keluar juga kalimat itu. Tapi aku tak berani menatap dia. Aku memilih
mengerutkan alis, mengatup bibir rapat-rapat dan menunduk.
Satu detik.. Dua detik.. Hening. Ku beranikan menatapnya sekilas. Dan dia hanya terdiam dan
melihatku lekat. Aku sama sekali tak tahu apa yang ada dalam pikiran kekasihku ini. Tak ada
yang bisa kurasakan selain desiran darahku yang naik turun, napasku yang tercekik, dan hawa panas dingin yang merayap. Aku masih
tak berani menatapnya.
Dia masih diam, dan aku semakin khawatir jika perpisahan yang ku mau
berujung prahara. Aku mau mengakhiri kisah cinta monyet ini segera. Dan kembali
menjadi Sasa
yang santun dan sholihah. Aku juga mau ia kembali menjadi Isan yang cerdas dan
sholih lagi.
Aku dengar dia menghela nafas. Dan kuberanikan menatapnya sebentar.
Aku yakin ia tahu arti kalimat perpisahanku itu, ya.. Aku yakin ia memahaminya.
Hanya sajaa.. Memang ini sesuatu yang sulit untuk kami. “Kembali ke jalan yang
benar”, setelah menoreh banyak dosa.
Tapi.. Ah tapi.. Sepertinya jiwa muda kami yang penuh api asmara ini
seakan meraung-raung minta dituruti. Padahal logikaku mengatakan itu salah.
Atau sebenarnya ini adalah salah satu godaan setan yang menginginkan kami
terus-terusan berbuat dosa dengan status kami “berpacaran”. Ada pembelaan dari
diriku yang lain, bahwa kami tak akan sejauh pacaran seperti remaja-remaja lain
yang sampai hamil diluar nikah atau bolos sekolah demi kencan atau hal negatif
konyol lainnya. Tapi sekali lagi itu hanya pembenaran. Bukan kebenaran.
Nuraniku membenarkan bahwa tak ada yang namanya pacaran sebelum menikah. Aku
tahu itu, tapi... Tidak, aku tidak boleh kalah dengan “gejolak jiwa muda” atau
apapun yang mengatas namakan untuk pembenaran dari status hubungan yang tak
direstui Allah.
Meskipun... Itu juga berarti aku harus kehilangan sosok yang selama
ini menghiasi hatiku. Sosok yang selalu ada dalam lamunan dan mimpiku. Sosok yang sudah menggambarkan masa depannya
bersamaku kelak.
Ku tatap ia sekali lagi, ekspresinya memang sulit ditebak. Tapi aku
tahu ia pasti
merasakan hal yang sama. Ia tahu keputusannya untuk berpacaran denganku adalah
salah, namun ia sendiri juga bingung bagaimana cara untuk mengakhiri. Jadi
salah satu diantara kami memang harus ada yang mengatakannya terlebih dahulu.
“Isan...?”.
Ku panggil ia sekali lagi.
“Aku
tak tahu apa yang harus aku katakan”.
Jawabnya murung.
“Aku
bersumpah hanya karena Allah aku mengucapkan tadi. Bukan karena yang lain.”
Ku lihat ia semakin menunduk lebih dalam. Apakah aku mengatakannya
terlalu keras hingga sulit ia terima? Entahlah... Aku hanya sedang berusaha mengikhlaskan setiap
janji-janji dimasa depan yang telah kami buat.
Ku pandangi lagi ia, dan ada penyesalan saat aku juga mengatakan
suka padanya dahulu. Tapi bagaimanapun hal itu sudah menjadi masa lalu yang tak
bisa diubah. Dan bukan salahnya yang menyatakan cintanya padaku dahulu, karena
salahku juga membalas cintanya. Jadi kami masih memiliki masa depan untuk
sama-sama kembali ke jalan Allah yang benar.
“Aku
… Aku perlu
waktu untuk melepasmu..”
Hanya itu yang kudengar darinya sebelum ia memutuskan beranjak dari
bangku taman sekolah ini. Kemudian senja mengantarkan bayangannya pergi.
“Sasa,
apakah kamu sudah melakukannya”. Entah dari mana Tata muncul dan langsung memelukku. Ya benar,
disaat seperti ini kehadiran sosok yang siap meminjami bahunya sangatlah
penting.
“iya, Ta.. Semoga ia mengerti”.
“Pasti.
Aku tahu kalian bisa. Aku tahu persis. Jatuh sekali bukan berarti
berlama-lamaan menyanjung sakit, bukan?”
Benar apa yang dikatakan Tata. Aku pernah mengambil satu keputusan yang salah dengan berpacaran dengan ketua rohis, dan
sekarang waktu yang tepat untuk segera kembali.
“Allah
menerima taubatku gak, ya Ta..”
Aku kaget, bukannya menjawab pertanyaanku malah ia menempelkan
telinganya di dadaku sambil memegang pergelangan tanganku.
“Jantung pasien masih berdegup, nadinya juga normal. Kesimpulannya Allah masih memberi waktu
untuknya bertaubat.”
Ah Tata, bisa ya bercanda disaat temannya putus cinta. Oke, semoga jadi
dokter beneran deh kelak.
Dan percakapan kami berakhir dengan senyum kecil di bibir kami.
Penulis.
Cik Sasmi. Lahir di Magetan Jawa Timur tahun 1992.
Menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga SMA di kota kecil itu bersama kedua
orang tua dan sepupunya. Mengambil S1 di Kedokteran Hewan Universitas Gadjah
Mada, dan kini sedang menempuh Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan Universitas
Gadjah Mada. Semasa kuliahnya ia habiskan untuk berorganisasi dan membaca buku.
Koleksi buku fiksinya jauh lebih banyak dari buku pelajaran. Ia bercita-cita akan
menjadi penerus Taufik Ismail, dokter hewan pecinta sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar