“Assalamu’alaykum..
Mbak Win, adek mana mbak..?”
“Wa’alaykumussalam.. Adek bobo mbak, dikeloni mbak Arum. Mas Eko di rumah sakit
sama Ibu, Mbak?”
“Alhamdulillah adek bobo. Oh iya, Mbak. Mumpung Ibu besuk, pulang sebentar
ambil baju dan nyuci baju adek.”
Alhamdulillah gadisku bisa
tidur siang, semoga sewaktu aku tinggal tidak rewel. Ah, adik perempuanku juga.
Ia sudah ikut dirumahku semenjak aku menikah dengan suamiku, tepatnya 7 tahun
silam. Akankah aku harus memulangkannya ke ibu karena kondisi keluargaku ini
yang tak memungkinkan untuk merawatnya lagi seperti dahulu. .?
“Duh Gusti, kuatkan
kami”. Ku cium kening gadis kecilku.
“Mbak, sudah
pulang? Bagaimana kondisi mas Eko?”. Ternyata adikku terbangun karena
kedatanganku.
“Ya di doakan
saja mas mu cepat sembuh ya, Dek.”
Tatapannya langsung suram. Wajahnya
tak lagi ada keceriaan. Sepertinya banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi
semua tercekat ditenggorokan, dan kesunyian sesudahnya.
“Mbak, sebenarnya tadi aku naruh uang di saku
baju sekolah, sepulang sekolah aku gantung bajunya. Sewaktu aku mau masukin
dompet, uangnya sudah tak ada. Padahal aku yakin uangnya disitu. Lalu..”
Sambil berbisik
ia meneruskan ceritanya..
“Dek Supri tadi
bisikin aku, “Mbak Arum, tadi Mas Narto
ambil uang yang di saku bajunya mbak”. Aku gak berani bilang apa-apa, Mbak”
Ah... Sepertinya
memang harus segera aku pulangkan saja adekku, sepertinya ia semakin tersiksa
dengan kondisi ini.
“Kamu yang sabar
ya, Rum. Sekarang kondisi kita tidak seperti dulu. Mbak sendiri juga enggak
kerja, mas mu juga enggak memungkinkah ditinggal lama-lama. Adek juga masih
kecil.”
Aku bisa
merasakan tatapannya yang semakin menerawang dan sedih itu.
“Mbak, Kita
harus bagaimana..”
“Maafkan Mbak sebelumnya, Rum. Tapi setidaknya sampai Mas Eko membaik, alangkah
baiknya kamu ditempat Ibu. Setidaknya kamu aman disana.”
“Mbak, Sekolahnya bakal jauh, belum ibu cuek dan Bapak yang kasar suka memaki.
Aku enggak tahan disana.”
“Bersabarlah, Mbak janji sampai Mas Eko sehat kamu mbak jemput lagi dan sekolah
disini.”
Air mata yang tak terbendung
antara aku dan Arum seakan semakin membuktikan ketidak berdayaan kami.
“Lalu adek
bagaimana, mbak..”
“InsyaAllah Adek akan mbak titipkan ke Bu Siti, wali kelasnya. Mbak berencana
pindah ke rumahnya Dek Edi di Trenggalek untuk dicarikan obat alternatif untuk
Mas mu. Bapak dan Ibu sepertinya juga sudah tidak sanggup untuk ini.”
“Mbak... Semoga Mas Eko segera sembuh”
Siang itu hanya ada air mata dan
wajah-wajah wanita yang berdiri diambang garis menyerah. Juga saling berpelukan
menangis tak bedaya. Ah.. Setidaknya aku masih punya adek kecil yang sekarang
tertidur pulas. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah adek bisa menjalani ini
semua. Di satu sisi suamiku kondisinya sangat menyayat hati. Tak bisa berdiri,
tak bisa duduk, berak di atas kasur. Disisi lain adek sekolah harus disini dan
jika adek ikut kami merantau ke Trenggalek, pasti akan membebani Keluarga Dek
Edi di trenggalek yang notabenya pedagang kios di pasar tradisional dan juga
masih menghidupi istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil.
Semoga ini keputusan terbaik untuk
keluarga kami semua.
**
3 Tahun kemudian
**
“Assalamu’alaykum,
Adek manis”
“Wa’alaykumussalam,
Ibuuuu”
“Lagi apa hayo
tadi..”
“Hehe.. biasa Bu, mainan sepedaan sama temen-temen”
“Masak cuma sepedaan?”
“Sama petak umpet. Ah tadi si Asih masak nangis bu, gara-gara dia kalah mulu
mainnya. Padahal nih adek udah berusaha ngalah, tapi tetep aja dia nangis.
Yaudah, akhirnya aku yang gantiin dia jaga”
“Haha.. Sudah sholat Dzuhur belum? Bentar lagi jam 3 kan masuk TPA dek, udah
mandi belum?”
“Males ah mandi, Bu. Basah.”
“Kalau gak mandi, ntar malaikatnya pingsan lho”
“Aku pinjemin masker ntar, Bu..”
“Malaikatnya enggak mau dipinjemin
masker, soalnya gak mau dibalikin ntar”
“Ah.. Jangan. Itukan kadonya dari Bapak dulu.”
“Ya sudah, mandi ya nak.. Bu Guru ada?”
“Ada, bu. Bentar yaa.. “Bu Guruu.. Bu
Guru.. telpon mama”.. Ini bu, Bu Guru”
“Hallo, Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam, Bu Siti.. Bagaimana kabarnya..?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarnya, Bu. Sehat? Pak Eko gimana?”
“Alhamdulillah dagangan bunga lumayan, Bu. Di ajarin Dek Edi ngrangkai bunga,
besok-besok saya bawakan ke Selosari bunganya, insyaAllah. Bapak insyaAllah di
carikan terus alternatifnya. Semoga ada yang cocok”
“Amien.. Jangan khawatir, Bu. Adek disini insyaAllah baik-baik. Sekarang lagi
mandi mau berangkat TPA”
“Iya, makasih
banyak, Bu Siti. Keluarga saya tak ada yang mau di tumpangi adek, tapi malah
guru SD nya yang bukan keluarga malah yang membantu kami, kami sangat-sangat
berhutang budi.”
“Jangan begitu,
Bu. Adek kan murid saya yang pinter, baik juga cantik. Saya enggak mau saja dia
ikut terombang-ambing pendidikannya karena harus ikut bapak ibunya
berpindah-pindah. Setidaknya disini dia masih punya teman yang sudah mengerti
keadaannya juga pihak sekolah yang juga memahami adek. Apapun kondisinya,
pendidikan adek yang paling utama. Juga psikologisnya. Ibu juga yang sabar ya
kangen adek. Adek juga suka kangen ibu”
“Iya, bu. Meski harus terpisah, insyaAllah memang ini yang terbaik untuk adek
dan masa depan adek. Biarlah saya berjuang melawan nasib disini dan menahan rindu
dengan adek, asal adek bisa pinter”
“Iya, Bu.
Alhamdulillah kemaren ulangan IPS nya adek dapat 9,7 bu. IPA nya juga 9,5. Cuma
matermatikanya adek agak kurang, bu. 7,8 nilainya”.
“Alhamdulillah,
nilai adek masih banyak yang bagus-bagus, meski matematikanya masih kurang.
Mungkin apa baiknya di les kan saja ya, Bu..?”
“Wah, mungkin
itu perlu, bu. Ini adek kalau habis sekolah main terus sampai maghrib sama
teman-temannya. Kadang maghrib masih lanjut mainnya, saya mau negur juga
bingung. PR nya biasanya gak lama ngerjainnya dan pada betul semua. Lalu mainnya
di rumah. Mungkin kalau di les kan, adek mainnya agak berkurang ya bu.”
“Oh, iya. Begitu
saja, Bu. Tapi dimana ya kiranya adek di leskan?”
“Di tempat Pak
Pangat saja, Bu. Disana insyaAllah bagus, juga bayarnya seikhlasnya. Tapi
karena bayar seikhlasnya, satu kelas bisa 30 orang anak.”
“Mungkin untuk
awal-awal disana saja, Bu. Biar adek bisa ngurangi main dan belajar Les.”
“Ya. Tempatnya
juga tak jauh, jadi adek bisa naik sepeda atau jalan kaki”
“Oh iya, nanti
saya telpon adek lagi saja bu setelah maghrib. Makasih, BU Siti.
Wassalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam”
*tuut..tutt..*
Meski kau sudah berusaha memutar
roda agar dirimu tak terus-terusan terinjak di bawah, namun saat kau tak bisa
melakukannya, maka kau harus lebih kuat mendorong rodanya, lebih lagi dan lagi.
Suamiku yang terbaring lemah di kamar, anakku nun jauh di rumah orang, dan adik
ku yang terus menungguku menjemputnya.
Patahan dahan bisa remuk dan
terinjak, bahkan tergilas roda hingga tiada sisa. Namun tak ada satupun suara
darinya yang mengaduh, mengeluh maupun menangis. Anakku, kaulah ranting kecil
itu. Meski engkau terpisah dari pohonmu, meski nasib menggilas habis
kebahagianmu, namun engkau terus bertahan dan berdoa agar kelak ada angin yang
menerbangkanmu kembali kepada pohonmu.
Bertahanlah, ibu akan segera kembali
dan bapak akan bergegas berlari menggendongmu lagi. Dan kita akan hidup bahagia
seperti dulu, ibu janji.