Sabtu, 14 Desember 2013

Ranting yang Patah

“Nak, bapak sekarang sakit. Kamu yang sabar ya. Sekarang kita tinggal bareng Budhe Wiwin, insyaAllah untuk sementara saja”. Hanya ada anggukan dari gadis kecilku membalas kata-kataku di keheningan.
****
            Ranting pohon tak kuat menahan dedaunan. Berguguranlah ia diterpa angin pegunungan. Hawa panas berganti menjadi dingin. Jalanan datar makin menanjak. Ku kendarai sepeda motor hitam metalic ini dengan tatapan menerawang membayangkan anakku menungguku di rumah tetangga yang aku tumpangi. Aku duduk dan roda berlari. Menginjak aspal hitam yang tak pernah merintih.
            Andai derita suamiku bisa dibagi, aku ingin membantunya memanggul rasa sakit itu. Dokter tak dapat mendiagnosa penyakit suamiku, bahkan suamiku dinyatakan sehat. Baik tes darah, tes urin, entah tes apalagi waktu itu. Tapi suamiku terus-terusan mengerang kesakitan. Kulitnya yang putih melepuh bernanah, badannya yang tegap menjadi kurus entah kemana kegagahannya dahulu. Lalu kepada siapa aku berobat untuk suamiku, ya Gusti Allah.
            Aku pamit sebentar untuk memastikan anakku sudah makan siang, dan tidak berbuat yang menganggu pemilik rumah. Sejak suamiku sakit, tak ada lagi yang mencari uang. Apalagi dirumah sakit biaya tak bisa diajak kompromi, sehingga kontrakan tak sanggup kami bayar. Alhamdulillah ada tetangga yang setidaknya mau menerima kami sementara berteduh di rumahnya.
            Sudah sampai rupanya. Aku hampir lupa berbelok ke rumah putih berpagar kuning itu. Ah.. Sudah 4 tahun mengontrak disana, sekarang kalau pulang harus membelokkan setir motor ke kanan, bukan ke kiri seperti biasanya. Kucari-cari kemana gerangan gadis kecilku sambil memarkir motor di halaman.

“Assalamu’alaykum.. Mbak Win, adek mana mbak..?”
“Wa’alaykumussalam.. Adek bobo mbak, dikeloni mbak Arum. Mas Eko di rumah sakit sama Ibu, Mbak?”
“Alhamdulillah adek bobo. Oh iya, Mbak. Mumpung Ibu besuk, pulang sebentar ambil baju dan nyuci baju adek.”
            Alhamdulillah gadisku bisa tidur siang, semoga sewaktu aku tinggal tidak rewel. Ah, adik perempuanku juga. Ia sudah ikut dirumahku semenjak aku menikah dengan suamiku, tepatnya 7 tahun silam. Akankah aku harus memulangkannya ke ibu karena kondisi keluargaku ini yang tak memungkinkan untuk merawatnya lagi seperti dahulu. .?
“Duh Gusti, kuatkan kami”. Ku cium kening gadis kecilku.
“Mbak, sudah pulang? Bagaimana kondisi mas Eko?”. Ternyata adikku terbangun karena kedatanganku.
“Ya di doakan saja mas mu cepat sembuh ya, Dek.”
            Tatapannya langsung suram. Wajahnya tak lagi ada keceriaan. Sepertinya banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi semua tercekat ditenggorokan, dan kesunyian sesudahnya.
 “Mbak, sebenarnya tadi aku naruh uang di saku baju sekolah, sepulang sekolah aku gantung bajunya. Sewaktu aku mau masukin dompet, uangnya sudah tak ada. Padahal aku yakin uangnya disitu. Lalu..”

Sambil berbisik ia meneruskan ceritanya..

“Dek Supri tadi bisikin aku, “Mbak Arum, tadi Mas Narto ambil uang yang di saku bajunya mbak”. Aku gak berani bilang apa-apa, Mbak”

Ah... Sepertinya memang harus segera aku pulangkan saja adekku, sepertinya ia semakin tersiksa dengan kondisi ini.

“Kamu yang sabar ya, Rum. Sekarang kondisi kita tidak seperti dulu. Mbak sendiri juga enggak kerja, mas mu juga enggak memungkinkah ditinggal lama-lama. Adek juga masih kecil.”

Aku bisa merasakan tatapannya yang semakin menerawang dan sedih itu.

“Mbak, Kita harus bagaimana..”
“Maafkan Mbak sebelumnya, Rum. Tapi setidaknya sampai Mas Eko membaik, alangkah baiknya kamu ditempat Ibu. Setidaknya kamu aman disana.”
“Mbak, Sekolahnya bakal jauh, belum ibu cuek dan Bapak yang kasar suka memaki. Aku enggak tahan disana.”
“Bersabarlah, Mbak janji sampai Mas Eko sehat kamu mbak jemput lagi dan sekolah disini.”
            Air mata yang tak terbendung antara aku dan Arum seakan semakin membuktikan ketidak berdayaan kami.
“Lalu adek bagaimana, mbak..”
“InsyaAllah Adek akan mbak titipkan ke Bu Siti, wali kelasnya. Mbak berencana pindah ke rumahnya Dek Edi di Trenggalek untuk dicarikan obat alternatif untuk Mas mu. Bapak dan Ibu sepertinya juga sudah tidak sanggup untuk ini.”
“Mbak... Semoga Mas Eko segera sembuh”
            Siang itu hanya ada air mata dan wajah-wajah wanita yang berdiri diambang garis menyerah. Juga saling berpelukan menangis tak bedaya. Ah.. Setidaknya aku masih punya adek kecil yang sekarang tertidur pulas. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah adek bisa menjalani ini semua. Di satu sisi suamiku kondisinya sangat menyayat hati. Tak bisa berdiri, tak bisa duduk, berak di atas kasur. Disisi lain adek sekolah harus disini dan jika adek ikut kami merantau ke Trenggalek, pasti akan membebani Keluarga Dek Edi di trenggalek yang notabenya pedagang kios di pasar tradisional dan juga masih menghidupi istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil.
            Semoga ini keputusan terbaik untuk keluarga kami semua.
**
3 Tahun kemudian
**
“Assalamu’alaykum, Adek manis”
“Wa’alaykumussalam, Ibuuuu”
“Lagi apa hayo tadi..”
“Hehe.. biasa Bu, mainan sepedaan sama temen-temen”
“Masak cuma sepedaan?”
“Sama petak umpet. Ah tadi si Asih masak nangis bu, gara-gara dia kalah mulu mainnya. Padahal nih adek udah berusaha ngalah, tapi tetep aja dia nangis. Yaudah, akhirnya aku yang gantiin dia jaga”
“Haha.. Sudah sholat Dzuhur belum? Bentar lagi jam 3 kan masuk TPA dek, udah mandi belum?”
“Males ah mandi, Bu. Basah.”
“Kalau gak mandi, ntar malaikatnya pingsan lho”
“Aku pinjemin masker ntar, Bu..”
“Malaikatnya  enggak mau dipinjemin masker, soalnya gak mau dibalikin ntar”
“Ah.. Jangan. Itukan kadonya dari Bapak dulu.”
“Ya sudah, mandi ya nak.. Bu Guru ada?”
“Ada, bu. Bentar yaa.. “Bu Guruu.. Bu Guru.. telpon mama”.. Ini bu, Bu Guru”
“Hallo, Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam, Bu Siti.. Bagaimana kabarnya..?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarnya, Bu. Sehat? Pak Eko gimana?”
“Alhamdulillah dagangan bunga lumayan, Bu. Di ajarin Dek Edi ngrangkai bunga, besok-besok saya bawakan ke Selosari bunganya, insyaAllah. Bapak insyaAllah di carikan terus alternatifnya. Semoga ada yang cocok”
“Amien.. Jangan khawatir, Bu. Adek disini insyaAllah baik-baik. Sekarang lagi mandi mau berangkat TPA”

“Iya, makasih banyak, Bu Siti. Keluarga saya tak ada yang mau di tumpangi adek, tapi malah guru SD nya yang bukan keluarga malah yang membantu kami, kami sangat-sangat berhutang budi.”

“Jangan begitu, Bu. Adek kan murid saya yang pinter, baik juga cantik. Saya enggak mau saja dia ikut terombang-ambing pendidikannya karena harus ikut bapak ibunya berpindah-pindah. Setidaknya disini dia masih punya teman yang sudah mengerti keadaannya juga pihak sekolah yang juga memahami adek. Apapun kondisinya, pendidikan adek yang paling utama. Juga psikologisnya. Ibu juga yang sabar ya kangen adek. Adek juga suka kangen ibu”

“Iya, bu. Meski harus terpisah, insyaAllah memang ini yang terbaik untuk adek dan masa depan adek. Biarlah saya berjuang melawan nasib disini dan menahan rindu dengan adek, asal adek bisa pinter”

“Iya, Bu. Alhamdulillah kemaren ulangan IPS nya adek dapat 9,7 bu. IPA nya juga 9,5. Cuma matermatikanya adek agak kurang, bu. 7,8 nilainya”.

“Alhamdulillah, nilai adek masih banyak yang bagus-bagus, meski matematikanya masih kurang. Mungkin apa baiknya di les kan saja ya, Bu..?”

“Wah, mungkin itu perlu, bu. Ini adek kalau habis sekolah main terus sampai maghrib sama teman-temannya. Kadang maghrib masih lanjut mainnya, saya mau negur juga bingung. PR nya biasanya gak lama ngerjainnya dan pada betul semua. Lalu mainnya di rumah. Mungkin kalau di les kan, adek mainnya agak berkurang ya bu.”

“Oh, iya. Begitu saja, Bu. Tapi dimana ya kiranya adek di leskan?”

“Di tempat Pak Pangat saja, Bu. Disana insyaAllah bagus, juga bayarnya seikhlasnya. Tapi karena bayar seikhlasnya, satu kelas bisa 30 orang anak.”

“Mungkin untuk awal-awal disana saja, Bu. Biar adek bisa ngurangi main dan belajar Les.”

“Ya. Tempatnya juga tak jauh, jadi adek bisa naik sepeda atau jalan kaki”

“Oh iya, nanti saya telpon adek lagi saja bu setelah maghrib. Makasih, BU Siti. Wassalamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalam”

*tuut..tutt..*

            Meski kau sudah berusaha memutar roda agar dirimu tak terus-terusan terinjak di bawah, namun saat kau tak bisa melakukannya, maka kau harus lebih kuat mendorong rodanya, lebih lagi dan lagi. Suamiku yang terbaring lemah di kamar, anakku nun jauh di rumah orang, dan adik ku yang terus menungguku menjemputnya.
            Patahan dahan bisa remuk dan terinjak, bahkan tergilas roda hingga tiada sisa. Namun tak ada satupun suara darinya yang mengaduh, mengeluh maupun menangis. Anakku, kaulah ranting kecil itu. Meski engkau terpisah dari pohonmu, meski nasib menggilas habis kebahagianmu, namun engkau terus bertahan dan berdoa agar kelak ada angin yang menerbangkanmu kembali kepada pohonmu.
            Bertahanlah, ibu akan segera kembali dan bapak akan bergegas berlari menggendongmu lagi. Dan kita akan hidup bahagia seperti dulu, ibu janji.



Sabtu, 23 November 2013

Panggil Aku Patric

                Matahari. Bulan. Bintang. Pagi. Siang. Malam. Selalu seperti itu. Diam-diam alam berkhianat. Berbisik dibelakang. Menikung matahari agar pergi dan menggantinya dengan bulan. Bulan kecil yang lemah, tak mampu mengusir matahari begitu saja. Ia kembali dengan taringnya. Mengaum dan mengamuk di angkasa. Awan tak bergeming. Diam mengheningkan cipta. Karena hidup matinya setipis kulit manusia. Jika ia bergerak tak sesuai keinginan matahari, matilah ia. Matilah ia dalam kebinasaan yang memilukan. Jatuh terijak-injak pada perut bumi yang murka.
                Sang raja Matahari mencekam. Awalnya ia bersahabat pada alam. Tersenyum seakan-akan semua kegelapan telah sirna oleh kehadirannya. Dengan penuh wibawa dan membuat hati burung-burung cerewet menyanyi bahagia. Babak pertama dimulai. Dimulai dengan harapan para penduduk bumi yang tercerca oleh zaman.
                Aku termenung bosan dalam kecamuk perang khayalanku. Mencoba menemukan apa bedanya sang presiden dengan matahari. Mencoba mengaitkan alam dengan nasibku dan bangsa ini. Agar aku ada sesuatu untuk berfikir selain bapak dan emak.
                Jika mati adalah jawabannya, pasti pisau dapur sudah kuambil. Sepucuk surat permintaan maaf kepada emak aku tuliskan. Jika hidup sesederhana itu. . .
                “Dul, jangan lupa doakan bapak ya nak. Juga dahulukan doa untuk diri kamu dulu”
                Aku heran, mengapa emak bisa tersenyum disaat seperti ini. Disaat aku sendiri berdiri di garis perbatasan antara kota malas dan kota bosan.
                “Iya mak”
                Haruskah aku berdoa? Didengarkah? Ah... aku sendiri terlalu cinta dengan Allah meski aku nakal dan bandel.
                “Ya Allah,. Maafkanlah aku. Maafkan dosaku,. Lancarkanlah rezeki kami, sesungguhnya kami tak memakan rezeki yang Engkau beri kepada kami untuk diri kami sendiri. Dan ya Allah, .. emm.. aku rindu Bapak. Jagalah ia , karena beliau telah menjaga kami dengan baik”
                Cess... Ada embun pagi di sore ini. Aku menunduk dan bersujud penuh syahdu. Bukan karena emak disampingku, atau karena merindukan bapak. Hanya memang aku menginginkan itu. Dari hatiku.
                Tidakkah bisa setan diam saja di pojokan? Bergumam penuh hasrat di telingaku. Ia bisikkan untuk segera saja kuakhiri kemesraanku dengan Nya. Jika tugas mencuci ini selesai, aku harus segera untuk menjemurnya. Ahh.. kenapa lagi ini kaki, . . hei... Ayo jalan ke sumur, kaki! Ah... apalagi ini.. hei mata, apa yang kau lihat disana? Tidakkah kau dengar aku memerintahkanmu untuk menuju ke sumur? Sebelum tikus-tikus curut itu kembali ke bak pakaian kotor dan menggigiti baju-baju usangmu?
                Tunggu sebentar, apa itu? Apakah itu Sponge Bob? Episode berapa ini? Aku belum pernah melihat sebelumnya. Ya ya ya... benar sekali, aku belum pernah melihat adegan ini, adegan ketika Patric kehilangan tempurung kepalanya dan menggantinya dengan tempurung lain yang ia temukan. Menjadi pintar sekali ia, memecahkan banyak teori matematis, hingga menemukan teori keharmonisan dalam nada.
                Ah.. sukses.. sekali lagi aku terjebak pada TV ini.
                “Katanya mau nyuci, dul?”
                “Bentar mak, belum nonton episode ini”
                Tanpa menoleh tanpa ekspresi, aku menjawab pertanyaan emak. Emak hanya diam. Entah kemana emak sekarang. Di dapur mungkin. Aku cukup sibuk dengan ini.
                “Mak.. apa aku bisa menukar tempurung kepala ku agar aku pintar?”
                “Kamu sudah diciptakan pintar”
                “Jika aku cukup pintar, aku tak akan perlu bersusah payah menghafal IPA. Itu menyebalkan”
                “Apa patric hanya pintar dalam matematika saat tempurung kepalanya di ganti?”
                “Tidak. Ia juga pintar memainkan clarinet Squidward”
                “Apa patric bahagia dengan tempurung barunya?”
                Aku tak dapat berfikir selain mengingat-ingat jalan cerita tadi. “Tidak.. dia tidak bisa bermain dengan Spoge Bob seperti dulu”
                “Lalu...?”
                “Dia memutuskan mencari tempurung kepalanya yang lama”
                Aku terdiam...
                “Tapi mak, aku ingin tempurung kepalaku diganti. Aku ingin pintar.”
                “Apa kau ingat saat Patric ingin menulis sebuah lagu namun dia tak bisa menulisnya?”
                “Emm..” . Aku mencoba mengingat-ingat. A.... aku ingat sekarang. “Patric meminjam ruang perpustakaan Sponge Bob dan juga kertas dan pensil. Lalu ia mulai, namun tak bisa-bisa. Lalu Sponge Bob datang menggendong Gerry, yang disangka Patric adalah bola tangan. Dan ia ada trauma dengan itu. Haha...”
                “Lalu Sponge Bob menyemangati Patric agar memulainya pelan-pelan. Akhirnya Patric mulai berfikir. Sampai otakny berasap hingga rumah Squidward”
                iih... Sungguh aneh Patric ini, ya....
                “Mengapa kamu tak mencoba duduk di meja belajarmu. Dan ambil kertas dan pensil. Kemudian paksa otakmu berfikir. Emak janji tidak akan mengeluh dengan bau asap yang keluar”
                Emak tersenyum santai sambil memandangiku yang kebingungan.
                “Tapi, Mak. Seluruh Bikini Bottom tak ada yang menyukaiku nanti. Bahkan grup band yang menyanyikan lagu Patric mati setelah itu. Aku tak mau berakhir menyedihkan.”
                “Itu karena Patric terlalu lama tak menggerakkan otaknya untuk berfikir.”
                Aku masih diam. Apa maksudnya emak ini ya kira-kira.
                “Dula masih belum terlambat untuk belajar”
                Aah.. kini aku mengerti maksud emak. Sebelum aku dikatakan pecundang oleh seluruh isi kota karena kebodohanku. Atau menjadi bayang-bayang Sponge Bob. Setidaknya aku harus mulai menggerakkan otakku. Setidaknya aku bisa menjadi seperti Sandy, si ilmuwan. Atau setidaknya mrs. Puff yang mengajar di Sekolah Mengemudi. Ah... atau jelek-jeleknya seperti Squidward menjadi kasir di restoran.
                “Mau kemana kamu, Dul?”
                “Belajar, mak. Biar gak kayak Patric..”
                “Wah.. Pintarnya anak emak. Tapi nyuci dulu ya, senin seragamnya dipake”

                Emak kok enggak lupa sih sama yang satu ini.

Jumat, 22 November 2013

Memasak

Ada sesuatu yang bisa dibilang bingun, atau pantas dibingungkan. Karena nampaknya bulan ini tak ada ide untuk menulia di blog (*lha ini apa). Hehe..ya maksudnya menulis di blog seperti biasa. Konten eksperimen gagal jd sok puitis. Heleh... lupakan...

Ide bulan ini justru tak ada melo2nya... ntah karena lagi gak melo atau gak sempet melo.. bisa jadi bisa jadi.. tidaak tidaak (*apa soh sas -,-)

Yaudah siih.. kenapa jadi menunjukkan kegalauan di tulisan. . Hoho..

Jadi intinya, sekarang lagi demen masak... sebenernya dari dulu sih, cuma ya emang baru2 ini mulai lagi masak2... hoho... apa aja masakanku...? Jangan salaah... mulai dari masakan indonesia, jepang, kampung, masakan ala ramadhan, apalagi ala mahasiswa adaaa... hehe...

Ada yang istimewa dimasakanku (*narsis dikit).. yaitu bumbu yg seadanya dan cenderung yg plg murah (*mahasiswa men) daaannn...... juga enak ..yg ngicipi wajib blg enak :x

Helah..... hoho
Pokoknya begitu...
Ini beberapa daftar masakan yg pernah aku buat....
1. Ungkep telor
2. Sambel terong balado
3. Kolak
4. Piscok
5. Pastel buah
6. Roti bakar
7. Sushi
8. Sayur rumahan (sop, oseng2, sayur bening)
9. Soto sapi dan ayam
10. Nugget udang
11. Es buah
12. Nasgor udang :*
13. Cumi
14. Stik sapi
15. Sambal2an
16. Jelly buah
17. Spaghetti
18. Mie dokdok
19. Dll

Dll = mean i don't remember anymore, or just it. Haha

Pokoknya gitu2 lah...

Rabu, 30 Oktober 2013

Seperti Ombak

"seperti ombak, meski ia pergi tak lama akan kembali.."

mih, tunggu aku pulang ya...
akan aku gosong punggungmu..
ku ganti perbanmu..
ku pijat kepalamu...

tangan yang dulu kau genggam,
kini sudah bisa membuatkan sup untukmu..

badan yang dulu kau gendong,
kini sudah bisa memapahmu kemana engkau mau
pundak yang dulu kau pegangi,
kini bisa kau gunakan bersandar

kaki kecil yang dulu kau titah,
kini bisa beranjak ke pasar untuk belanja

mih,, aku ini ombak birumu...
meski aku pergi tak lama akan kembali

mih, aku sudah dewasa untuk bisa merawatmu...
jika aku tak ada, jangan menangisiku..
karena aku ombak birumu yang akan segera kembali..
dan tak akan pernah lelah

jangan khawatir mih,
meski engkau hanya punya aku..
tapi aku belajar memiliki seribu kekuatan untuk bangkit dari kelelahan,
sama sepertimu
bukankah aku ini jelmaan kecilmu?

aku ombak birumu yang akan segera kembali.. tunggulah aku malaikat ku :))




~catatatan kecil sang buah hati :))


Jumat, 11 Oktober 2013

Random #7

Aku sesaat merasa menjadi magnet
Tertarik begitu saja tanpa sebuah alasan yang jelas
Alam bawah sadarku menuntunku pada sebuah pertemuan
Yang tak aku bayangkan sebelumnya

Jika saat itu aku benih
Maka akan kusirami dengan air mata
Agar ia tumbuh dengan baik
Aku akan melindungimu dari langit aku berada
Dan menjadi hujan turun untuk membuatmu hidup

Bersinarlah engkau dengan cerah
Kalahkan sinar mentari pagi
Hangatkan bumi
dan terbang bersama bunga dendelion

Aku akan melindungimu dari langit
Menjadi hujan turun untuk membuatmu hidup
Agar engkau tetap bersih dan bersinar
Aku akan tersenyum dari sini















~Efek kebanyakan nonton Anime

Rabu, 21 Agustus 2013

Sisi Lemahku

aku hanya bisa memandangimu dalam diam
tanpa kata
meski jarakmu denganku hanya dua bangku saja
tapi terasa kau ada di belahan bumi sana
jauh tiada camar yang mampu menyebranginya
atau ikan yang mampu menggapainya

aku memandangimu lagi dalam kebisuan
dan kesendirian
kau sebut namaku tanpa menatap
atau menoleh sedikit saja
hanya gesture mu seakan menolak
aku hanya ingin mengulang kembali suara itu

meski tak terdengar merdu
tapi aku baru menyadari suara beratmu
aku tak mampu mengingat lagi selain aku harus melupakanmu
hal terlemah dalam diriku
sisi lemahku.



~dalam hati penuh senyuman

Senin, 19 Agustus 2013

Random #6

Terminal maospati ini tak henti lalulalang 
kau datang dan pergi tanpa ada yang peduli 
kecuali kebisingan roda yang terantuk 
bahkan matahari enggan menepi 
menyengat ubun-ubun tiap kali kau melawannya 

tak ada mendung, hanya burung tersesat yang ada 
bangku tak ada yang kosong 
penuh debu dan hamba yang kelaparan 
waktu itu tak lagi sebentar 
semua orang tenggelam dalam bayangan rumah 

aku hanya duduk di bangku kosong yang tak lagi kosong 
menanti seseorang yang aku nanti 
bukan pangeran berkuda putih 
atau rombongan mentri 
hanya seorang laki-laki sederhana membawa 2 helm





~dengan hati penuh syukur

Random #5

Aku memang terwarna jingga, bertaburan bunga, berlangitkan tawa 
tapi dasar bumiku terluka, terkikis,
dan lara 
aku tak bisa bahagia mana luka 
atau luka yang membuatku menjadi bahagia 
ia bukan telaga penyejuk duka 
atau langit biru angkasa 
hanya pecahan kaca peluka 
tiada terduga tiada terfikirkan 
ia menelusup dan merobeka dada 
dan lara 
tapi aku tau telaga ini bukan yang aku maksud



















~dengan hati penuh syukur :')

Random #4

teruntuk hati yang tak mengerti...
aku memang menuliskan warna-warni
tapi aku tak berlari
aku memang menemui rembulan di malam hari
untuk bercerita siang hiruk ramai
namun aku hanya tertegun seorang diri

aku mengucapkan sepatah kata
tiada ku lanjutkan tiada ku sambungkan
aku tutup pintu semampu dahan menguncinya
tapi sinar siang tetap menerobos jendela
hanya bayang tirai tersapu memanjang

aku tak menggantung mimpi di langit senja
atau mengikat bayangan tak terjamah pada dahan

hanya menghanyutkan pada sungai
agar arusnya membawa semuanya pergi, dan tak pernah kembali
terus maju dan melanjutkan angan mimpi

aku tak bicara pada arus,
atau menangisinya dalam mendung

aku memang orang yang berhati warna-warni itu
tapi aku tak berpijak pada bumi yang semu
dan memang Tuhan mengijin aku memiliki hatiku



~2 Agustus 2013
Milad day :')

Rabu, 24 Juli 2013

Random #3

aku ingin bercerita
berderita pada malam
yang menyembunyikan bayangan kelam

aku ingin berkata
berkeluh pada awan yang menyapu bintang
menjadikannya tak nampak

agar tiada kalimat terungkap
atau santun yang tersibak


Senin, 22 Juli 2013

Bulan dan Matahari

Matahari berjarak sangat jauh, tapi sinarnya hingga ke bumi. karena matahari, air bumi ke langit dan kemudian turun ke belahan bumi lainnya. langit hanya membutuhkan satu matahari. dan bumi hanya berporos pada satu matahari

jika matahari lelah, maka ia hadirkan bulan di langit malam. ia jadikan kantuk pada tiap mata, dan ia titipkan sinarya kepada bulan agar malam tak segelap itu.

sinar bulan redup, sinar yang tepat untuk hati-hati yang kelelahan. bulan menjaga laut bergelombang dan menjadi saksi kedatangan Allah ke bumi di sepertiga malam terakhir. Bulan bersinar dengan meneruskan sinar matahari, menyinari hati-hati yang bersimpuh dalam sujud syahdu.

Begitulah Allah menjaga keseimbangan bumi ini.

Tanpa matahari, bulan tak akan bersinar



*catatan lama
*Nasehat lama dari seorang sahabat :))

Random #2

akulah setangkai mawar yang sendirian
yang kesepian di terpa hujan
di amuk badai matahari di padang pasir

airku tersedot melangit
aku keriput dan kering
tiada akar menghujam ke bumi
tiada tetes air membasuhku

aku tersesat dan terlupakan
terbuang dan terabaikan
aku mawar yang sendirian di padang pasir















20.20 22 Juli '13
dengan hati penuh syukur :))

Setangkai mawar yang di rindu

di penghujung usia ke 20 tahun ini
di penghujung bulan Juli ini
sebelas hari lagi menuju setahun, setahun penantianku

mengindahkan kamuflase jalannya mimpiku
membiarkannya menggambar dengan jelas angan-angan tak teraba
aku membuka jendela kamar
menghirup dalam aroma pagi mentari
di sambut nyanyian pipit
mencium aroma yang aku rindu

aku merindukan hal yang belum aku miliki
atau tak akan pernah aku miliki
cahaya pagi ini belum pernah menjamah
tetes-tetes air yang mengering belum pernah menyentuhmu
dan aku belum menciumu
atau menangis bersamamu



Minggu, 30 Juni 2013

Random


aku ini hanya garam dalam lautan
tetesan air dalam hujan
butiran pasir di pantai
aku terbang terbawa angin
dan mengalir bersama arus
bergeser dengan rotasi bumi
dan menentukan jalanku sendiri
untuk takdir yang telah di tetapkan

apakah hidup ini hanya aku
apakah Tuhan hanya menciptakan satu garam di lautan?
maka air laut tak terasa asin

siapa yang akan mempedulikan sebutir pasir yang sendiri
bahkan untuk terlihatpun tidak
dan Tuhan tak menciptakan hujan dengan setetes air,




















~30 Juni 2013
02.21
dengan hati yang penuh syukur

Selasa, 21 Mei 2013

evil

aku sangat suka merutuki diriku yang tak becus dalam banyak hal
banyak melamun dan menyalahkan diri
aku tak bisa menulis
aku tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan dengan benar
aku tak bisa berbuat hal yang aku suka dengan baik

kenapa aku tak bisa melakukan sesuatu dengan baik dan benar
apa yang salah dari dirikuu
dan aku sering merasa jijik dengan tulisanku sekarang..

mengapa mereka begitu menjijikkan
sangat menjijikkan untuk di baca

Kata yang tak terucap


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu

yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

yang menjadikannya tiada…"

~Sapardi Djoko Damono


setiap cinta memiliki bahasanya sendiri,
dengan caranya sendiri,
dan nampak indah dengan sendirinya,

mom.. i love you ...
:')
sejuta kata yang tak terucap, yang tertahan di dada, membungkam diri
aku ingin mencintaimu dengan sederhana dan terimalah aku sesederhana itu
i love you, mom :')